web analytics
Kronik Sejarah Majapahit Warisan Konspirasi yg Terwariskan Hingga Kini [1] - DUNIA KERIS

Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Membincang tentang sejarah memang tidak muncul titiknya. Seperti yang akan kita bincang lagi ini, Majapahit. Tulisan yang kisanak baca ini ialah sambungan berdasarkan tulisan sebelumnya yang aku beri tajuk Susur Galur Imperium Majapahit.

Pada tulisan sebelumnya secara awam aku hanya mencuplik garis waktu pemerintahan raja-raja yang pernah memerintah Majapahit & masa kejayaannya. Nah, tulisan ini ialah pelengkapnya. Sebelumnya harap dimaklumi lantaran tulisan ini agak panjang jadi aku posting menjadi 2 bagian yang aku rangkai dalam bentuk cerita.

Baik, beberapa sumber tulisan ini aku kutip bulek kita yang baik hati, siapa lagi kalau bukan bulek wiki(pedia) & tentu saja atas restu mbah google yang mengarahkan ke beberapa situs sejarah lainnya. Demikian saja intronya & eksklusif kita mengupasnya, tetapi tipis-tipis saja lantaran kalau tebal bisa capek aku menulisnya, pun kisanak membacanya.

Dari bulek wiki(pedia), Majapahit ialah Kerajaan yang terakhir & sekaligus yang terbesar kepada antara kerajaan Hindu-Buddha kepada Nusantara. Didahului sang kerajaan Sriwijaya, yang beribukota kepada Palembang kepada pulau Sumatra. Kerajaan ini dirintis sang Raden Wijaya yang merupakan keturunan keempat berdasarkan Ken Arok & Ken Dedes. Sebelum kerajaan Majapahit lahir, sudah berdiri terlebih dahulu kepada tahun 1222 Masehi kerajaan Singosari yang pendirinya ialah Ken Arok yang berpusat kepada Malang (Tumapel).

Penelusuran terhadap lahirnya kerajaan Majapahit tidak terlepas berdasarkan eksistensi kerajaan Singosari Tumapel. Begitupun kalau kita menelusuri awal bersatunya nusantara, tidak bisa terlepas berdasarkan eksistensi Majapahit. Artinya eksistensi Singosari, Majapahit, & Nusantara ialah sesuatu yang bersifat integral & tidak terpisahkan satu sama lain.

Pada masa Singosari, yaitu masa Pra Majapahit yang mempunyai transedental dinasti dengan masa Majapahit, Perluasan daerah dilanjutkan dengan meliputi daerah-daerah yang lebih luas. Pada masa Singosari negara-negara yang disatukan kepada bawah koordinasi kewenangan Singhasari ialah: Madhura, Lamajang, Kadiri, Wurawan, Morono, Hring, & Lwa, semua mengacu kepada daerah-daerah kepada pulau Jawa (timur) & Madura.

Untuk merunutkan sejarah Majapahit aku akan ajak kisanak terlebih dahulu buat menelisik sejarah berdirinya kerajaan Singosari yang kita tahu merupakan merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Sejarah berdirinya Majapahit dimulai berdasarkan penunjukkan raja Singosari yaitu Kertanagara yang memerintahkan Raden Wijaya buat menghalau serangan pasukan Kadiri kepada desa Memeling. Penunjukan Raden Wijaya tidak sia-sia, prajurit Singosari kepada bawah Wijaya membawa kemenangan atas Kadiri kepada Mameling.

Sayangnya gempita kemenangan pasukan Wijaya yang berhasil menghalau prajurit Kadiri kepada Mameling hanya semua belaka. Justru kepada ketika yang sama pasukan Kadiri berhasil menghambat keraton Singosari. Ternyata Kadiri mengecoh kepada Mamenang buat memecah pasukan Singosari, lantaran kepada ketika yang sama justru pasukan utamanya menggempur pusat kota Singosari. Dan mereka berhasil.

Raja Sri Kertanegara gugur dalam pralaya tersebut, secara otomatis kerajaan Singosari berada kepada bawah kekuasaan raja Jayakatwang berdasarkan Kadiri. Mendapati hal demikian, dengan pasukan sisa berdasarkan Mamenang, Raden Wijaya berusaha menyerbu istana yang sudah dikuasai sang pasukan Kadiri tersebut. Sayangnya, lantaran kekuatan tidak sebanding, urusan ekonomi tersebut tidak menuai dampak. Justru Wijaya & pasukannya terkepung sang pasukan Kebo Mundarang, meski kemudian berhasil meloloskan diri berdasarkan situasi tidak menguntungkan tersebut.

Tidak ingin buruannya lepas begitu saja, Mundarang & pasukannya terus mengejar Wijaya & pengikutnya yakni; Lembu Sora, Gajah Pagon, Medang Dangli, Malusa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kepetengan, Wirota Wiragati & Pamandana. Usaha ini hampir saja menuia dampak ketika Wijaya terjebak dipersawahan yang baru saja kepada bajak. Wijaya hampir tertawan sang Mundarang. Namun nasib baik masih menyungkupi Wijaya, dengan memancal tanah gembur lantaran bajakan tersebut sampai mengenai dahi Mundarang. Kesempatan yang baik & tidak disia-siakan Wijaya buat meloloskan diri.

Dengan pasukan sisa yang tidak sebanding dengan kekuatan pasukan Kadiri yang menguasai keraton, maka tidak muncul jalan lain bagi Wijaya selain harus menyamar. Penyamaran disini ialah dengan mengenakan pakaian sama persis seperti prajurit Kadiri. Setelah persiapannya agak, maka Wijaya & pengikutnya kembali memasuki keraton Singosari yang kepada ketika yang sama prajurit Kadiri merayakan pesta kemenangan.

Ternyata dalam keraton tersebut Wijaya tidak mendapati Gayatri putri bungsu Kertanegara. Gayatri ditawan sang musuh & dibawa ke Kadiri sedangkan putri yang sulung yaitu Tribuanareswari berhasil diselamatkan sang Raden Wijaya. Atas saran Lembu Sora, Raden Wijaya bareng Tribuaneswari & para pengikutnya kemudian mundur ke luar kota menuju arah utara, percuma melanjutkan perang yang niscaya akan membawa kekalahan lantaran jumlah tentara Kediri jauh lebih akbar.

Sisa pasukan Singosari yang hanya tingga kira-kira 600 prajurit & sudah menunggu kepada utara seperti sudah ciut nyalinya. Mereka frustasi & meninggalkan Wijaya & hanya meninggalkan sedikit diantaranya saja. Dengan sisa pengikutnya Wijaya meneruskan perjalanan menuju Terung & berharap Akuwu Terung, Wuku Agraja bisa membantunya. Harapan Wijaya berdasarkan akuwu yang diangkat sang mendiang Kertanegara ini dia memperoleh bantuan buat mengumpulkan orang buat menyusun kekuatan kembali.

Usaha menggalang kekuatan ini berhasil, maka persiapan pun kemudian dilakukan buat melakukan perlawanan. Justru berdasarkan sinilah petaka itu dimulai, ketika mereka berangkat kembali ke pusat kota Singosari melalui Kulawan, berdasarkan sinilah Wijaya & pasukannya kepada hajar habis-habisan sang prajurit Kadiri yang menjadikannya Kulawan menjadi benteng pertahanan.

Kekuatan yang lagi-lagi tak seimbang & prajurit yang belum terlatih denga dengan baik, Wijaya & pasukannya kocar-kacir & melarikan diri ke utara menuju Kembangsari (Bangsri). Keputusan yang salah, lari berdasarkan kejaran harimau justru menuju lisan buaya. Di Kembangsari sisa pasukan yang meloloskan diri ini dihadang sang prajurit Kadiri sampai Wijaya & sisa pasukannya menceburkan diri ke Bengawan. Sasaran yang empuk berdasarkan penombak musuh. Banyak pengikut Wijaya yang tewas kepada sini.

Tenyata yang berhasil sampai diseberang hanya 2 belas orang, termasuk Wijaya & Tribuanareswari. Rombongan kecil prajurit yang tak lagi punya induk ini berjalan menjauh berdasarkan kejaran pasukan pemburu Kadiri, sampai kemudian kepada tolong sang masyarakat Kudadu. Selain dilindungi, kepada Kudadu ini Wijaya & rombongan kecilnya dimuliakan sang tetua kampung yang bernama Macan Kuping. Sementara Gajah Pangon yang menderita agak parah kepada pahanya ditinggal kepada dusun Pandak, disembunyikan disebuah ladang sang seseorang warga setempat.

Setelah jenak kepada Kudadu ini, kemudian Wijaya & rombongannya melanjutkan perjalanan ke Madura yang diantar eksklusif sang Macan Kuping sampai sampai daerah Rembang. Dalam Pararaton dusun Pandak tidak dikenal menjadi secara lugas, justru yang dikenal menjadi ialah Datar. Lempengan tembaga yang diketemukan kepada gunung Butak kepada daerah Mojokerto yang diyakini dimuntahkan Wijaya setelah menjadi raja Majapahit populer dengan Piagam Kudadu. Piagam Kudadu ini serupa ungkapan terimakasih Wijaya kepada Macan Kuping, tetua kampung Kudadu yang pernah menjamunya sebelum melanjutkan perjalanan ke Madura.

Atas pertolongan tetua dusun Kudadu yang mempersiapkan segala sesuatunya, rombongan Wijaya dapat menyeberangi laut menuju Madura buat meminta konservasi berdasarkan Arya Wiraraja. Seorang Bupati Singosari yang ditempatkan kepada daerah yang kini kita kenal menjadi pulau garam ini.

Untunglah, sikap Arya Wiraraja menjadi Bupati Singosari tidak berubah meskipun dia tahu kerajaan Singosari sudah runtuh. Sambutan yang demikian hangat membentuk Wijaya terharu menjadi akibatnya dia berjanji jikalau berhasil mengembalikan kekuasaan yang sudah direbut Jayakatwang maka daerah kerajaan setengahnya akan diberikan kepada Arya Wiraraja. Arya Wiraraja sangat tersanjung mendengar janji Raden Wijaya & akan berupaya mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya buat mewujudkan keinginan Wijaya tersebut.

Wiraraja pula memberi nasehat agar Wijaya menyerah & mengabdi kepada Jayakatwang kepada Kadiri. Tentu saja sembari mengamati peta kekuatan Kadiri dalam pengabdiannya tersebut. Setelah itu Wijaya diminta mengajukan permohonan kepada Jayakatwang buat membuka hutan daerah Tarik yang kemudian Wiraraja akan mengirimkan orang-orang Madura buat membantunya. Begitulan rencananya dalam pertemuan tersebut.

Wiraraja kemudian mengirimkan utusan ke Kadiri buat mengungkapkan bahwa Wijaya menyatakan takluk & bermaksud buat mengabdi kepada Jayakatwang. Permohonan tersebut disetujui sang Jayakatwang. Raden Wijaya kemudian berangkat ke Kadiri dengan diantar sang Wiraraja sendiri, sesampainya kepada daerah Terung, Wijaya kemudian dijemput sang patih Kadiri yaitu Sagara Winotan & Yangkung Angilo kepada daerah Jung Biru.

Adapun Tribhuwaneswari yang turut dan dalam perjalanan Raden Wijaya ke Madura permanen tinggal & dititipkan ke kepada Arya Wiraraja. Kedatangan Wijaya & para pengikutnya kepada Kadiri bertepatan dengan perayaan hari raya Galungan. Setelah agak lama mengabdi kepada Kadiri, Wijaya kemudian mengusulkan buat membuka daerah Tarik, seperti saran Wiraraja yang sudah jauh hari direncanakan menjadi hutan perburuan bagi Jayakatwang yang suka berburu. Ternyata usul tersebut disetujui tanpa curiga.

Daerah Tarik terletak kepada tepi sungai Brantas dekat pelabuhan Canggu yang kini terletak kepada sebelah Timur Mojokerto. Wijaya segera mengirim Wirondaya ke Sumenep, Madura buat melaporkan persetujuan Jayakatwang tersebut Wiraraja. Arya Wiraraja kemudian mengerahkan orang-orang Madura buat membantu membuka hutan Tarik yang kemudian menetap kepada daerah tersebut.

Daerah yang baru dibuka ini kemudian dinamakan Majapahit atau Wilwatikta. Konon kepada ketika itu, seseorang pengikut Wijaya yang haus mencoba memakan buah Maja yang banyak masih muncul kepada loka itu & mendapati bahwa ternyata cita rasanya pahit menjadi akibatnya daerah itu dinamai demikian. Wilwa artinya buah Maja, Tikta artinya pahit. Setelah hutan Tarik berhasil dibuka, Wijaya kemudian minta ijin kepada Jayakatwang buat memastikan kesiapan daerah tersebut menjadi daerah buruan.

Jayakatwang yang tidak muncul kecurigaan sedikitpun menijinkannya dengan catatan Wijaya tidak lama tinggal didaerah tersebut. Demikianlah akhirnya Wijaya berangkat bareng pengikut setianya kepada hari mertamasa. Pada hari ke tujuh Wijaya akhirnya sampai kepada daerah Tarik & tinggal kepada Pesanggrahan yang terbuat berdasarkan bambu yang dikelilingi kolam.

Panji Wijayakrama memperlihatkan uraian yang sangat kentara tentang eksistensi daerah Majapahit menjadi berikut :

Kota yang dibangun menghadap ke sungai yang akbar yaitu sungai brantas yang mengalir berdasarkan Kadiri sampai ke laut.
Sungai kecil yang mengalir berdasarkan selatan yaitu Kalimas yang kepada jaman tersebut dikenal menjadi kali Kancana.
Perahu dagang hilir balik  kampung silih berganti dikemudikan sang orang Madura.
Orang Madura mengalir tak putus putusnya ke Majapahit, mereka menetap kepada Majapahit bagian utara yang dinamakan Wirasabha.
Disebelah tenggara kota ialah jembatan.
Daerah yang dibuka sebagian akbar berupa sawah & perkebunan yang ditanami bunga, pucang, pinang, kelapa, & pisang.
Telah tersedia tahta berdasarkan batu putih loka duduk Raden Wijaya yang dinakaman Wijil Pindo yang artinya pintu kedua.

Wijaya ini ternyata pandai mengambil hati masyarakat yang baru saja menetap kepada daerah Tarik yang sudah menjadi nama Majapahir ini. Bahkan orang-orang berdasarkan Daha & Tumapel kemudian banyak yang menetap kepada daerah Majapahit ini. Di desa ini Wijaya kemudian memimpin & menghimpun kekuatan, khususnya masyarakat yang loyal terhadap mendiang Kertanegara yang berasal berdasarkan daerah Daha & Tumapel.

Sementara Wiraraja kepada Sumenep menyiapkan pasukannya buat membantu Raden Wijaya bila saatnya dibutuhkan. Setali tiga uang, rupanya Wiraraja pun kurang menyukai Jayakatwang. Sementara Banyak Kapuk & Mahisa Pawagal yang diutus sang Raden Wijaya ke Sumenep buat mengabarkan kesiapan Majapahit melakukan kudeta sudah sampai. Semua pesan Wijaya sudah disampaikan kepada Wiraraja.

Ketika mereka hendak kembali ke Majapahit, Wiraraja menyertakan putranya yang bertempat kepada dusun Tanjung ke Majapahit buat membawa pesannya. Bahwa dia (Arya Wiraraja) belum bisa datang ke Majapahit & berjanji akan secepatnya mengirim utusan ke Tiongkok buat minta bantuan tentara Tartar.

Banyak Kapuk & Mahisa Pawagal akhirnya balik  ke Majapahit membawa dan Tribhuwaneswari & putra Wiraraja yaitu Ranggalawe. Nama Ranggalawe ialah bantuan gratisRaden Wijaya kepada putra Arya Wiraraja tersebut lantaran ketegasan tindak tanduknya kepada ketika pertama kali bertemu Raden Wijaya. Lawe artinya benang / wenang lantaran dia diberikan wewenang buat memerintah seluruh masyarakat Madura & diberi pangkat Rangga.

Selengkapnya tentang Ronggolawe ini bisa kisanak baca lebih jauh kepada Ranggalawe dalam Kilas Pandang

Keesokan harinya Wijaya bareng Ranggalawe, Ken Sora & para Wreddha Menteri lainnya menyusun siasat buat menyerang kerajaan Kadiri. Namun sebelum penyerangan dilaksanakan Ranggalawe minta ijin balik  ke Madura buat mengambil kuda ayahnya yang berasal berdasarkan daerah Bima & kuda-kuda lainnya buat kendaraan para senopati lainnya. Usul tersebut disetujui, akhirnya Ranggalawe balik  ke Madura.

Raden Wijaya sudah lama meninggalkan Kadiri, akhirnya kepada bulan Waisaka datang utusan berdasarkan Jayakatwang yang bernama Sagara Winotan yang meminta kepada Raden Wijaya buat balik ke Kediri lantaran Jayakatwang akan melaksanakan perburuan kepada daerah baru tersebut. Pada ketika Sagara Winotan muncul kepada Majapahit datanglah Ranggalawe dengan kuda-kuda perangnya berdasarkan Madura. Kuda kuda tersebut kemudian diturunkan berdasarkan atas jung (kapal).

Segara Wionotan terheran-heran melihat kuda-kuda akbar tersebut. Untuk menghindari kecurigaan berdasarkan utusan Kadiri tersebut, Raden Wijaya kemudian menjelaskan bahwa kuda-kuda tersebut akan dipergunakan buat persiapan berburu Jayakatwang. Segara Winotan percaya akan maksud baik Wijaya & ingin segera melihat sepak terjang orang orang Madura dalam melaksanakan perburuan.

Namun perkataan Segara Winotan tanpa disadari sudah menyinggung hati Ranggalawe menjadi akibatnya menyahut apa bedanya tindak tanduk petani Madura dengan orang Daha, segera engkau akan mengetahui kemampuan orang Madura. Raden Wijaya terkejut mendengar teriakan lantang Ranggalawe. Kalau hal tersebut dibiarkan maka akan terjadi perselisihan diantara kedua orang tersebut & apa yang sudah dirahasiakan selama ini akan terbongkar.

Untuk menenangkan suasana, Ken Sora yang pula paman berdasarkan Ranggalawe kemudian mengajaknya buat mengawasi penurunan kuda-kuda berdasarkan jung. Segara Winotan yang terkejut dengan teriakan Ranggalawe segera menanyakan siapakah gerangan orang lantang tersebut. Raden Wijaya menjelaskan bahwa orang tersebut ialah kemenakan Ken Sora berdasarkan Tanjung sebelah barat Madura. Ucapannya kasar lantaran dia ialah petani bentil, lantaran itu janganlah terlalu diambil hati. Segera Winotan kemudian kembali ke Daha.

Baca pula : Bagaimana Aika Ranggalawe Bukanlah Putra Arya Wiraraja

Kuda yang dibawa sang Ranggalawe berdasarkan Madura berjumah 27 ekor kemudian dibagikan kepada para senopati-senopati yang akan memimpin pasukan. Segara Winotan sudah kembali ke kerajaan Kadiri kemudian melaporkan ke hadapan Jayakatwang tentang kesiapan berburu yang sudah dipersiapkan dengan matang sang Raden Wijaya. Tentu saja tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya. Maklumlah selama kepada daerah Tarik Segara Winotan hanya diterima kepada daerah Wirasaba & tidak diberi kesempatan buat melihat keadaan kota.

Raden Wijaya memang sangat pintar dalam mendapat tamunya sampai sedemikian rupa menjadi akibatnya Segara Winotan tidak mengetahui persiapan perang yang sedang direncanakan sang Wijaya. Sementara Arya Wiraraja sudah bersiap siap buat berangkat ke Majapahit diiringi bala tentaranya berdasarkan Madura. Kedatangannya dengan puluhan jung sampai kepada Canggu disambut sang Wijaya & ditempatkan kepada Pesanggarahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Arya Wiraraja minta maaf kepada Wijaya alasannya adalah sudah mengambil keputusan tanpa persetujuan berdasarkan Wijaya yang menjanjikan 2 orang putri berdasarkan Tumapel akan diserahkan kepada kaisar Tartar bila mampu menundukkan Jayakatwang berdasarkan Kadiri. Kaisar Tartar berjanji bahwa pasukan Tartar akan datang kepada bulan Waisaka. Dalam menyusun siasat buat menyerang kerajaan Kadiri, Ranggalawe mengusulkan agar pasukan Majapahit dipecah menjadi 2 yaitu;

Arya Wiraraja memimpin pasukan yang beranjak melalui jalan raja, lewat Linggasana.
Raden Wijaya memimpin pasukan yang melalui Singhasari. Ranggalawe akan ikut dalam pasukan Raden Wijaya, kedua pasukan akan bertemu kepada daerah Barebeg.

Dalam Kidung Harsa Wijaya Pupuh IV diuraikan tentang peperangan Majapahit dengan kerajaan Kadiri. Ranggalawe berpendapat tidaklah mungkin terjadinya perang tanpa muncul penyebabnya, lantaran hal tersebut akan menimbulkan tuduhan bahwa Raden Wijaya tidak tahu berterima kasih akan kebaikan Prabu Jayakatwang yang sudah mendapat Raden Wijaya & pengikutnya dengan baik selama mengabdi kepada kerajaan Kadiri.

Oleh lantaran itu Ranggalawe mengusulkan agar Raden Wijaya mengirimkan utusan ke Jayakatwang buat meminta putri Puspawati & Gayatri, putri Kertanagara yang ditawan sang kerajaan Kadiri. Aika permintaan tersebut tidak dikabulkan maka alasan tersebutlah yang akan dipakai dasar buat menyerang kerajaan Kadiri. Ken Sora, Gajah Pagon & Lembu Peteng lebih cenderung buat memberontak begitu saja, lantaran bukan tidak mungkin Jayakatwang akan meluluskan permintaan Raden Wijaya tersebut.

Nambi mengusulkan agar prajurit Majapahit berusaha memikat pembesar-pembesar kerajaan Daha menjadi akibatnya ikut membantu pemberontakan terhadap pemerintahan Jayakatwang. Usul tersebut ditolak sang Podang yang mendapat dukungan berdasarkan Panji Amarajaya, Jaran Waha, Kebo Bungalan & Ranggalawe. Karena pendapat yang berbeda-beda tersebut akhirnya mereka semua minta pendapat berdasarkan Arya Wiraraja, alasannya adalah sudah terbukti Arya Wiraraja pandai memberi nasehat kepada Raden Wijaya. Atas saran Arya Wiraraja kemudian diputuskan penyerangan ditunda & menunggu pasukan Tartar yang diperkirakan kedatangannya masih sebulan lagi.

Akhirnya kepada tanggal 1 Maret 1293, 20.000 pasukan Mongol mendarat kepada Jawa. disebelah barat Canggu yakni daerah Tuban & eksklusif membentuk benteng pertahanan kepada lembah Janggala. Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri berdasarkan tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, & Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan 2 lainnya ialah orang Mongol. Mereka diberangkatkan berdasarkan Fukien membawa 20.000 pasukan & sekitar seribu kapal.

Kublai Khan membekali pasukan ini buat pelayaran selama satu tahun dan biaya sebanyak 40.000 batangan perak. Shih Pi & Ike Mese mengumpulkan pasukan berdasarkan tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, & Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab buat menyiapkan perbekalan & kapal. Pasukan akbar ini berangkat berdasarkan pelabuhan Chuan-chou & tiba kepada Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293.

Bersambung.

Leave a Reply