Dunia Keris Selamat tiba kerabat perkerisan. Pangeran Puger dalam sejarah Kesultanan Mataram merujuk pada beberapa nama, yg terkenal antara lain, putra Panembahan Senopati & putra Amangkurat I. Kedua tokoh ini hidup pada zaman yg berbeda.

Pangeran Puger yg kedua (putra Amangkurat I) naik takhta menjadi raja Kasunanan Kartasura tahun 1704-1719, bergelar Sunan Pakubuwana I yg akan kita ulik kali ini. Nama aslinya Raden Mas Drajat, lahir berasal permaisuri keturunan Keluarga Kajoran.

Jelasnya bahwa Puger lahir sekitar 1648. Ketika Trunojoyo merogoh alih istana Plered di akhir bulan Juni 1677, Amangkurat I dengan putra mahkotanya yg tak lama kemudian naik tahta menjadi Amangkurat II melarikan diri ke arah barat. Dalam pelarian tersebut, Amangkurat I wafat & dikebumikan di Tegal Wangi. Ketika itu telah terjadi pertarungan antara Puger & putra mahkota yg berusia hampir sama dengannya. Sebenarnyalah, terdapat sejumlah bukti bahwa di akhir hayatnya, Amangkurat I lebih memilih Puger ketimbang putra mahkota. Bagaimanapun pula, yg akhirnya memimpin perlawanan terakhir menyusul keraton ditaklukan oleh Trunojoyo ialah Puger.

Mas Drajat pernah diangkat menjadi putra mahkota menggantikan kakaknya, yaitu Mas Rahmat yg berselisih dengan ayah mereka (Amangkurat I). Namun jabatan tersebut kemudian dikembalikan lagi pada Mas Rahmat karena Keluarga Kajoran terlibat pemberontakan Trunojoyo. Mas Rahmat balik  bergelar Pangeran Adipati Anom, sedangkan Mas Drajat balik  bergelar Pangeran Puger.

Ketika terjadi serbuan Trunojoyo tahun 1677, Adipati Anom menolak ditugasi ayahnya mempertahankan Plered, ibu kota Mataram, & memilih ikut mengungsi ke barat. Pangeran Puger tampil melaksanakan tugas itu menjadi bukti jika nir seluruh keturunan Kajoran mendukung Trunojoyo. Namun kekuatan kaum pemberontak terlalu besar sehingga Puger kalah & menyingkir ke Jenar.

Pangeran Puger kemudian mendirikan Kerajaan Purwakanda berpusat di Jenar. Ia mengangkat diri menjadi raja bergelar Susuhunan Ingalaga. Setelah Trunojoyo balik  ke markasnya di Kediri, Sunan Ingalaga segera merebut Plered & mengusir anak butir Trunojoyo yg ditempatkan di kota itu. Amangkurat I meninggal dalam pengungsian. Adipati Anom menjadi raja tanpa tahta bergelar Amangkurat II. Dengan bantuan VOC, pasukan Amangkurat II berhasil menumpas Trunojoyo akhir tahun 1679.

Karena Plered diduduki Sunan Ingalaga, Amangkurat II memilih membangun keraton baru bernama Kartasura pada bulan September 1680. Ia kemudian memanggil Sunan Ingalaga agar bergabung di Kartasura.

Ajakan itu ditolak. Maka terjadilah perang saudara. Akhirnya, pada tanggal 28 November 1681 Sunan Ingalaga menyerah kepada Jacob Couper, pemimpin pasukan VOC yg membantu Amangkurat II. Sunan Ingalaga pun balik  bergelar Pangeran Puger & mengakui kedaulatan kakaknya menjadi Amangkurat II.

Antara kedua bersaudara, Amangkurat II & Pangeran Puger, terdapat perbedaan sifat yg mencolok. Amangkurat II dikisahkan bersifat lemah hati & nir teguh pendirian. Sebaliknya, Pangeran Puger jauh lebih tegas. Itulah sebabnya Pangeran Puger diangkat menjadi tangan kanan Amangkurat II & lebih berperan krusial dalam pemerintahan daripada kakaknya, yg hanya bersifat menjadi simbol. Amangkurat II naik takhta berkat bantuan VOC, tentu saja dengan perjanjian yg memberatkan Kartasura. Ketika keadaan telah safety, Patih Nerangkusuma yg anti Belanda mendesaknya agar mengkhianati perjanjian.

Pada tahun 1685 Amangkurat II melindungi buronan VOC bernama Untung Suropati. Capten Francois Tack tiba ke Kartasura buat menangkap si pelarian. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Namun diam-diam, beliau pula menugasi Pangeran Puger agar menyamar menjadi anak butir Untung Suropati.

Dalam pertempuran sengit di sekitar keraton Kartasura bulan Februari 1686, tentara VOC sebanyak 75 orang tewas ditumpas pasukan Untung Suropati. Pangeran Puger sendiri berhasil membunuh Capten Tack memakai tombak Kyai Plered.

Amangkurat II meninggal dunia tahun 1703. Tahta Kartasura jatuh ke tangan putranya yg bergelar Amangkurat III. Serat Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II (kakaknya sendiri atau ayah berasal Amangkurat III). Dahsyatnya lagi, Puger menghisap sperma ketika abangnya itu sendiri telah menjadi mayat.

Dari ujung kemaluan muncul setitik cahaya yg diyakini menjadi wahyu keprabon. Barang siapa mendapatkan wahyu tersebut, diyakini akan menjadi raja tanah Jawa. Puger menghisap sinar tersebut tanpa terdapat seorang pun yg melihat.

Adegan itu tercatat dalam Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit saking Nabi Adam doemagi in Taoen 1647; yg dalam edisi cetakan 1941 terdapat di halaman 260. Adegan yg sama bisa dilihat dalam monograf yg detail & memukau karya Darsiti Soeratman yg berjudul Kehidupan Dunia Kraton: Surakarta: 1830-1935 di halaman 212.

Sejak ketika itu dukungan terhadap Pangeran Puger berdatangan karena banyak yg nir menyukai watak jelek Amangkurat III. Suasana antara paman & keponakan tersebut memanas. Kebencian Amangkurat III semakin bertambah ketika Raden Suryokusumo putra Puger memberontak.

Pada puncaknya, yaitu bulan Mei 1704 Amangkurat III mengirim pasukan buat membinasakan famili Puger. Namun Puger & para pengikutnya lebih dulu mengungsi ke Semarang. Yang ditugasi mengejar ialah Adipati Jangrana bupati Surabaya. Adipati Jangrana sendiri sebenarnya memihak Puger sehingga pengejarannya hanya bersifat sandiwara.

Bupati Semarang yg bernama Rangga Yudanegara menjadi perantara Pangeran Puger dalam meminta bantuan VOC. Kepandaian diplomasi Yudanegara berhasil membuat VOC memaafkan peristiwa pembunuhan Capten Tack serta menyediakan diri membantu perjuangan Pangeran Puger, tentu saja dengan perjanjian yg menguntungkan pihak VOC.

Isi Perjanjian Semarang yg terpaksa ditandatangani Pangeran Puger antara lain penyerahan daerah Madura bagian timur kepada VOC.Pada tanggal 6 Juli 1704 Pangeran Puger diangkat menjadi raja bergelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa, atau disingkat Pakubuwana I.

Setahun kemudian (1705) Pakubuwana I dikawal campuran pasukan VOC, Semarang, Madura (barat), & Surabaya berkiprah menyerang Kartasura. Pasukan Kartasura yg menghadang dipimpin Arya Mataram, adik Pakubuwana I sendiri. Arya Mataram berhasil membujuk Amangkurat III agar mengungsi ke timur, sedang beliau sendiri kemudian bergabung dengan Pakubuwana I.

Dengan demikian, takhta Kartasura pun jatuh ke tangan Pakubuwana I tanggal 17 September 1705.Pemerintahan Pakubuwana I dihadapkan pada perjanjian baru dengan VOC menjadi pengganti perjanjian lama yg ditandatangani Amangkurat II. Perjanjian lama yg telah dibatalkan berisi kewajiban Kartasura buat melunasi biaya perang Trunojoyo sebanyak 4,lima juta gulden. Sedangkan perjanjian baru berisi kewajiban Kartasura buat mengirim 13.000 ton beras setiap tahun selama 25 tahun.

Pada tahun 1706 campuran pasukan Kartasura & VOC mengejar Amangkurat III yg berlindung di Pasuruan. Dalam perang itu, Untung Surapati yg telah menjadi bupati Pasuruan tewas. Amangkurat III sendiri akhirnya menyerah di Surabaya tahun 1708, buat kemudian dibuang ke Srilanka.

Pada tahun 1709 Paku Buwana I terpaksa menghukum mati Adipati Jangrana bupati Surabaya yg telah membantunya naik takhta. Penyebabnya ialah, pihak VOC menemukan bukti jika Adipati Jangrana berkhianat dalam perang melawan Untung Surapati tahun 1706.

Adipati Jangrana digantikan adiknya, bernama Jayapuspita menjadi bupati Surabaya. Pada tahun 1714 Jayapuspita menolak menghadap ke Kartasura & menyusun pemberontakan. Pada tahun 1717 campuran pasukan Kartasura & VOC menyerbu Surabaya. Menurut Babad Tanah Jawi, perang di Surabaya ini lebih mengerikan daripada perang di Pasuruan dulu. Jayapuspita akhirnya kalah & menyingkir ke Mojokerto tahun 1718.Paku Buwana I meninggal dunia tahun 1719. Yang menggantikan menjadi raja selanjutnya ialah putranya, yg bergelar Amangkurat IV.

Pemerintahan Amangkurat IV ini kemudian dihadapkan pada pemberontakan saudara-saudaranya, antara lain Pangeran Blitar & Pangeran Dipanegara Madiun. Salah Seorang anak Amangkurat IV kelak bergelar Hamengkubuwana I, Sultan Yogyakarta.

Refernsi :
wikipedia

M.C. Ricklefs, Surat Pangeran Puger yg sedang dalam pelarian kepada Pemerintahan Agung, lima Mei 1704. Dalam: Harta Karun: Khazanah Sejarah Indonesia & Asia-Europa berasal arsip VOC di Jakarta, dokumen 4. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013.
Babad Tanah Jawa
.geni/people/Kanjeng-Susuhunan-Pakubuwono-I-Kartasura/6000000001180545961

Leave a Reply