web analytics
Tradisi Tedhak Siten: Ritual Turun Tanah dalam Budaya Jawa dan Makna Filosofisnya - DUNIA KERIS

Pendahuluan

Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat berbagai upacara adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, mulai dari kelahiran hingga kematian. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah Tedhak Siten, yaitu ritual yang menandai momen pertama seorang anak menapakkan kaki di tanah.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni keluarga, melainkan sarat dengan nilai filosofis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Pengertian dan Makna Etimologis

ilustrasi langkah pertama anak (sumber: whattoexpect.com)

Secara etimologis, Tedhak Siten berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu tedhak yang berarti turun atau menapakkan kaki, dan siten yang berasal dari kata siti yang berarti tanah. Dengan demikian, Tedhak Siten dapat diartikan sebagai prosesi turun tanah.

Upacara ini biasanya dilaksanakan ketika anak berusia tujuh lapan, yaitu sekitar 245 hari menurut penanggalan Jawa. Pada fase ini, anak mulai belajar duduk dan berjalan, sehingga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memperkenalkan anak kepada dunia luar.

Dalam perspektif budaya Jawa, tanah dipandang sebagai simbol kehidupan dan sumber penghidupan. Oleh karena itu, prosesi ini juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada bumi sebagai tempat manusia menjalani kehidupan.

Nilai Filosofis dan Spiritual 

Tedhak Siten mengandung nilai filosofis yang berkaitan dengan konsep keseimbangan antara manusia dan alam. Dalam pandangan masyarakat Jawa, dikenal konsep “Ibu Pertiwi dan Bapa Angkasa” yang menggambarkan hubungan antara bumi sebagai sumber kehidupan dan langit sebagai kekuatan spiritual.

Melalui tradisi ini, anak secara simbolis diperkenalkan kepada alam semesta, sekaligus didoakan agar mampu menjalani kehidupan dengan selaras dan seimbang. Selain itu, Tedhak Siten juga menjadi wujud rasa syukur orang tua atas pertumbuhan dan kesehatan anak.

Rangkaian Prosesi Tedhak Siten

Pelaksanaan Tedhak Siten terdiri dari beberapa tahapan yang masing-masing memiliki makna simbolis.

Tahap awal adalah slametan, yaitu doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh atau tokoh agama. Dalam prosesi ini disiapkan berbagai hidangan seperti tumpeng, ayam ingkung, bubur merah putih, jajanan pasar, serta hasil bumi. Masing-masing memiliki makna simbolis, seperti harapan akan kesejahteraan, kesuburan, dan keselamatan.

ilustrasi slametan (sumber: wikimedia)

Selanjutnya, anak diminta menginjak jadah berwarna tujuh macam. Angka tujuh dalam tradisi Jawa melambangkan tahapan kehidupan, sementara tekstur jadah yang lengket menggambarkan berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam hidup.

Tahap berikutnya adalah menaiki tangga yang terbuat dari tebu jenis arjuna. Tebu melambangkan keteguhan hati, sementara tokoh Arjuna dalam pewayangan Jawa dikenal sebagai simbol ksatria yang memiliki sifat mulia. Prosesi ini mengandung harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter.

Setelah itu, anak diajak berjalan di atas pasir. Kegiatan ini melambangkan kemandirian dan kemampuan untuk mencari penghidupan di masa depan.

Salah satu prosesi yang paling dikenal adalah ketika anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berisi berbagai benda, seperti alat tulis, perhiasan, makanan, atau mainan. Benda yang dipilih anak dipercaya sebagai gambaran minat atau kecenderungan masa depannya.

prosesi kurungan ayam (sumber: wikemedia)

Kemudian dilakukan penyebaran udik-udik, yaitu beras kuning yang dicampur dengan uang logam untuk diperebutkan oleh para tamu. Prosesi ini melambangkan harapan agar anak kelak menjadi pribadi yang dermawan dan membawa keberkahan bagi sekitarnya.

Rangkaian acara ditutup dengan memandikan anak menggunakan air bunga setaman dan memakaikan pakaian baru. Tahap ini melambangkan penyucian diri serta harapan akan kehidupan yang baik dan sejahtera.

Makna Sosial dalam Tradisi Tedhak Siten 

Selain nilai spiritual, Tedhak Siten juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Tradisi ini melibatkan keluarga besar dan masyarakat sekitar, sehingga menjadi sarana mempererat hubungan sosial.

Kegiatan seperti slametan dan pembagian makanan mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Dengan demikian, Tedhak Siten tidak hanya berfungsi sebagai ritual individu, tetapi juga sebagai media integrasi sosial.

Penutup 

Tradisi Tedhak Siten merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa. Setiap tahapan dalam prosesi ini mengandung makna yang mendalam, mulai dari pengenalan anak terhadap alam hingga harapan akan masa depan yang baik.

Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa setiap langkah awal kehidupan selalu diiringi doa, harapan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur. Melalui pelestarian tradisi seperti Tedhak Siten, masyarakat tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga mempertahankan identitas dan nilai kehidupan yang telah teruji oleh waktu.

Leave a Reply