Terima kasih kerabat perkerisan menyempatkan waktu berkunjung ke sini. Bika pada waktu yang lalu aku menulis Wejang Jolosutro, pada kesempatan pagi ini kita akan mengulik tentang sosok Ajisaka. Sebagai kultur orang Jawa, tentu sangat tidak asing menggunakan sosok ini, keliru satunya artinya pencetus Aksara Jawa yang bermula dari kisah perjalanannya. Sebagaimana kita tahu. karena kehendak Allah jugalah terjadinya insan, hewan, pepohonan, yang kesemuanya itu terjadi serta hidup dan dapat ditinjau secara nyata wujudnya (ana rupa-wujude). Atas kehendak Allah tersebut yang luluh pada diri insan, menyebabkan insan mempunyai keluhuran, keimanan, bawa laksana, welas asih, keadilan, ketulusan, eling lan waspada. Kesemuanya itu menyampaikan insan kemuliaan (kamulyan) dan kesejahteraan (karahayon). Rasa tersebut juga menghubungkan kehidupan insan menggunakan Allah Sang Maha Pencipta.

Ca-ra-ka sendiri pengertiannya artinya memuliakan Allah. Sebab tanpa ada bawana seisinya, apalagi tanpa adanya insan, tentu tidak akan ada sebutan Asma Allah. Tanpa adanya caraka, tentu pula Hana-Ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna Da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut. Adanya yang ada (anane dumadi) sumber asalnya artinya Satu, yaitu Dzat Allah. Dari yang kasar dan halus (agal lan alus), wingit (penuh misteri) dan ghaib, mutlak pada dirinya melekat setidaknya secercah Dzat Allah (kadunungan sapletheking Dzat Allah). Artinya, pancaran kun fayakun itu tidak hanya mencipta bawana seisinya, namun terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan (ngesihi, nyamadi lan nglimputi sakabehing dumadi).
Allah menciptakan bawana seisinya, khususnya dalam menciptakan insan, bukan tanpa rencana, namun menggunakan keinginan dan tujuan yang nyata dan mutlak. Titah Allah tidak dapat diingkari dari apa yang sudah ditetapkan menjadi kodrat (pepesthen). Demikian juga seluruh makhluk hidup pada dunia (saobah-mosiking dumadi) mutlak terkena keterbatasan dan restriksi (wates lan winates), seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya (kadunungan) kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi (punjul-pinunjulan) dan saling hidup-menghidupi (urip-inguripan).Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya (balegere dumadi), insan dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi (kasampurnaning manungsa). Terciptanya insan yang ditakdirkan (pinesthi) menjadi Wali Allah, menandakan bahwa hanya sosok insan sajalah yang bisa menjadi Warangka Dalem Yang Maha Esa (wakil Tuhan pada dunia). Kelahiran insan dalam wujud raga-fisik dan bentuk badan itu merupakan sari-patining bawana. Maka, menjadi keniscayaan jika insan bisa memakai dayanya guna mengungkap rahasia alam.Kelahiran hidup insan, merupakan wujud dari sukma, yang dalam proses mengada dan menjadi terbentuk dari sari-pati terpancarnya Dzat Allah (dumadi saka sari-pati pletheking Dzat Allah). Oleh karena itu, insan bisa mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya Allah (nguladi, ngupadi, ngyakini lan ngimani marang kasunyataning Allah), karena sukma sejati insan itu berasal dari Sana (sabab suksma sajatining manungsa asale saka Kana). Selanjutnya Pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa sawenehing kang dumadi atau apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri. Sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan fitrahnya, bahwa: Panguripaning dumadi tansah wor-ingaworan , dalam kehidupan insan selalu saling pengaruh mempengaruhi selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup insan, bahwa perangkat badaning manungsa mustahil secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri. Artinya, ana raga tanpa sukma/nyawa mustahil bisa hidup, tetapi ana sukma tanpa raga juga tidak bisa dikatakan hidup, karena tidak bisa bernafas.Bika seluruh anggota badan makarti semua, baru disebut urip kang sejati. Daya hidup (sang gesang) akan melekat pada setiap diri-pribadi seseorang, yaitu rupa, wujud berikut segala tingkah-lakunya. Dapat dikatakan daya hidup akan luluh pada dirinya (sing kadunungan). Semua yang berwujud dan hidup mutlak bakal tarik- menarik, saling bersinergi (daya-dinayan), sehingga menimbulkan daya-daya, seperti: daya adem-panas, positif-negatif, luhur-asor, padhang-peteng, dan kesemuanya itu senantiasa berputar silih berganti (cakra manggilingan).

Semua inti dari interaksi tersebut ada pada diri insan, pada mana inti tadi sebenarnya telah terserap dari badan insan sendiri. Maka dapat disimpulkan, bahwa obah-mosiking jagat/alam, juga terjadi pada obah-mosiking manungsa secara pribadi. Di mana ketika terjadi gonjang-ganjinging jagat/ alam, insiden pada insan juga demikian adanya. Ketika insan bertingkah laku angkara-murka, merusak dan sebagainya. Jagat/alam juga berada dalam ancaman bahaya, misalnya musibah banjir, lahar, tanah longsor, banyaknya kecelakaan dan sebagainya.Makanya, insan harus selalu jangan lupa akan kewajiban pokoknya, yaitu: Hamemayu-Hayuning Bawana. Artinya, kanthi adhedhasar wahana sastra jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebetulnya insan dapat nyidhem atau menghindari kerusakan alam semesta, selain juga bisa nyirep dahuruning praja (memadamkan kerusuhan negara).

Ikatan insan menggunakan Allah Swt., berupa keyakinan dan kepercayaan yangdiwujudkan dalam panembah lan pangesti seperti ditulis dalam tuntunan kalam, yang disebut kepercayaan. Mewajibkan insan manembah (sembahyang, samadi) hanya tertuju kepada Yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ketika insan manembah melalui sembah rasa, harus menggunakan seluruh sukma (roh, moral) kita, bukan badan raga yang penuh menggunakan kotoran (nafsu duniawi). Sebetulnya sembah raga itu hanya sarengating lahir, agar supaya umat insan taat dan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Manusia itu paling dipercaya ngembani Asmaning Allah, maka insan harus menduduki rasa kemanusiaannya. Untuk itu, insan harus bisa menempatkan diri pada citra keTuhanannya. Allah telah menciptakan apa saja untuk insan, jagat sak isine. Tinggal bagaimana insan bekti marang Allah Kang Maha Esa. Tergantung manusianya, seberapa akbar tanggung jawabnya marang Kang Maha Kuasa. Sebab bawana bersama seluruh isinya artinya menjadi tanggung jawab insan.

Yang terakhir, Ma-ga-ba-tha-nga dapat dijelaskan maknanya, kurang-lebih sebagai berikut. Manungsa kang kalenggahan wahyuning Allah, manungsa kang manekung ing Allah Kang Maha Esa dadi daya cahyaning Allah lan rasaning Allah luluh pada sukma insan. Jagat (alam) tergantung pada sejarah umat insan yang disebut awal dan akhir, juga menjadikannya jantraning manungsa. Hakikatnya gelaring alam/jagat itu, juga gelaring manungsa. Jadi pada dunia ini ora bakal ana lelakon, ora ana samubarang kalir, kalau tidak ada gerak kridhaning manungsa.
Setelah ada insan, sakabehing wewadi, sakabehing kang siningit lan sinengker wus kabukak wadine semua telah terang, semua telah menjadi nyata.

Wis ora dadi wadi, amerga wis tinarbuka,
Wis ora ana wingit, amerga wis kawiyak,
Wis ora ana angker, amerga wis kawuryan.

Artinya, kalau semua sudah kamanungsan/konangan kalau semua telah menjadi kenyataan berarti tugas kewajiban insan pada dunia telah selesai. Sudah hingga pada perjanjian pribadining manungsa dan sudah titi mangsa harus pulang marang pangayuning Pangeran. Dari tidak ada menjadi ada (ora ana dadi ana) menjadi tidak ada lagi (ora ana maneh). Artinya, sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate, mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal-akhire, artinya sangkan paraning dumadi wis khatam/tamat. Kalau umat insan sudah tidak ada lagi kang dadi asmaning Allah juga tidak akan disebut (kaweca), ana.

Demikianlah, kurang lebih output perenungan aku selama ini dalam menggali makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Aji Saka: Ha-na-ca-ra-ka. Betapa pun kita mengagungkan ke-adiluhung-an karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, atau pun filsafat Ha-na-ca-ra-ka, jikalau tanpa penghayatan dan meresapi nilai-nilai substansial yang terkandung pada dalamnya serta usaha mengembangkannya. Tentulah tidak akan bermakna bagi kehidupan sastra Jawa masa sekarang dan masa depan, apalagi terhadap budaya Indonesia Baru yang harus kita bangun.

Sastra Jawa mengandung wulang-wuruk kejawen, yang jika dilakukan penelitian lebih suntuk akan bisa digali ajaran kehidupan yang bisa memberi pencerahan pikir dan rasa untuk direnungkan pada malam hari. Kesemuanya itu seakan meneguhkan makna peninggalan Ajisaka yang diungkapkan Sri Susuhunan Paku Buwono IX dalam tembang Kinanthi: Nora kurang wulang-wuruk, tumrape wong tanah Jawi. Laku-lakuning ngagesang, lamun gelem anglakoni. Tegese aksara Jawa iku pengajar kang sejati. Maturnuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *