Breaking News
Home / artikel / Mengenal Museum Radyapustaka Solo ( Museum Surakarta )

Mengenal Museum Radyapustaka Solo ( Museum Surakarta )

museum radyapustaka solo

Museum Radyapustaka adalah salah satu museum tertua di kota solo, Pengertian kata Radyapustaka berasal dari kata radya yang artinya tempat pustaka atau buku-buku (karya sastra), semula tempat ini untuk menyimpan atau tempat untuk mempelajari hasil karya sastra dari pujangga-pujangga Jawa di antaranya Pujangga Yosodipuro dan Pujangga Ronggowarsito. Keadaan sekarang, tempat ini digunakan museum penyimpanan barang-barang kuno misalnya pusaka, arca, gamelan, mas intan, dan lainnya peninggalan benda kuno.

Museum Surakarta ini letaknya di sebelah timur Taman Sriwedari Surakarta dan museum ini didirikan tanggal 28 Oktober 1890 (tahun Jawa tanggal 15 Mulud Ehe 1829) oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat ke-4 atas kebijaksanaan Raja Paku Buwono ke-9. Museum Radyapustaka ini mulai aktif tanggal 7 Juli 1899. Semula museum ini bertempat di dalem kepatihan, selanjutnya pada tanggal 1 Januari 1913 dipindahkan di sebuah loji atau rumah besar bekas rumah seorang Belanda bernama Johannes Busselaar yang letaknya di sebelah timur Taman Sriwedari di desa Kadipolo, loji tersebut dulunya merupakan tempat yang wingit atau misteri hingga Belanda yang menempatinya merasa tidak tentram dan meninggalkan tempat tersebut karena sering diganggu oleh roh halus.

Untuk selanjutnya loji tersebut ditempati oleh seorang tumenggung yang bernama Tumenggung Joyonagoro keluarga bangsawan, yang akhirnya juga mengalami seperti orang Belanda tidak tentram mendiami tempat tersebut. Akhirnya dikosongkan karena tidak ada yang berani mendiami. Atas prakarsa Sosrodiningrat ke-4 loji tersebut dimanfaatkan sebagai tempat Museum Radyapustaka yang kita kenal sekarang ini. Selain tempat ini digunakan menyimpan benda-benda bersejarah juga untuk mencari ilmu dan menyebarluaskan tentang pengetahuan (Java kawruh) Jawa terutama dalam bidang karya sastranya.

Radyapustaka waktu dulu setiap hari Rabu malam mengadakan sarasehan tembang sastra Jawa, pengertian tentang kitab-kitab, seni karawitan dan lain-lain yang berhubungan dengan kebudayaan. Sarasehan tersebut dengan tu-juan ingin selalu melestarikan kebudayaan bangsa sendiri sehingga menciptakan rasa kenasionalan yang tinggi. Usaha untuk menyebarluaskan hasil-hasil dari sarasean pun telah dilakukan dengan menerbitkan majalah berkala yang bernama “Sasadara” sayang kalawarti tidak berumur panjang namun tidak putus asa kemudian menerbitkan yang kedua kalinya “Tjandra Karta” juga berhenti lagi kemudian ke-3 menerbitkan “Waradarwa” yang hanya berumur 3 tahun.

Meskipun sudah beberapa kali dalam pengembangan hasil sarasehan namun tak pantang menyerah, dan selanjutnya me-nerbitkan buku-buku sebagai publikasi yang penyebarannya sampai di luar lingkup Surakarta. Sedang buku-buku yang telah dikeluarkan ialah koran bahasa Jawi, Wulang Reh, Baoewarno, Among Tani. Sekarang museum tersebut diurus oleh S. Prodjomartono dan sekarang telah memiliki benda-benda kuno baik koleksi dari Radyapustaka itu sendiri maupun koleksi-koleksi dari luar, di antaranya benda-benda pusaka dari koleksi Haji Masagung telah disumbangkan kepada museum Radyapustaka tersebut .

Di waktu dulu Radyapustaka selain menyelenggarakan ceramah-ceramah yang sangat bermanfaat juga memberikan pendidikan pedalangan dan kerawitan, selain itu juga mengajarkan bahasa Kuno, Kawi namun keadaan tersebut juga ti-dak dapat bertahan lama. Untuk mengurusi pelestarian Radyapustaka ini dan agar dapat berkembang lebih baik dan kaya akan koleksi benda-benda peninggalan sejarah, maka tahun 1951 dijadikan menjadi sebuah yayasan. Yayasan ini diberi nama Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta yang berbadan huk um dengan Akte Notaris R.M Wiranto Yogyakarta tertanggal 31 Agustus 1953 No. 24. Yayasan ini diketuai oleh Kanjeng Gusti Panembahan Hadiwijoyo almarhum. Tahun 1966 dibentuklah Presedium Museum Radyapustaka yang di-ketuai oleh R.T. Hardjonagoro Go Tik Swan, hingga kini Museum Radyapustaka telah memiliki lebih dari 5.000 kolek-si benda-benda bersejarah baik berupa buku-buku, wayang kulit maupun artevac-artevac lainnya. Radyapustaka dilihat dari isi koleksinya dapat dibagi menjadi 4 bagian ialah:

  • Bagian tata cara
  • Bagian karya sastra atau buku-buku
  • Bagian barang-barang kuno
  • Bagian berbagai peristiwa.

Di antara koleksi-koleksi yang ada di Radyapustaka yang paling banyak jumlahnya dan sering menarik pandangan pengunjung baik orang asing maupun orang awan adalah koleksi buku-buku. Sampai sekarang buku-buku itu telah ter-kumpul sekitar kurang lebih 2.500 buku, buku-buku ini ditulis ke dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa asing.

Dari buku-buku yang berbahasa Jawa umumnya masih ditulis tangan jumlahnya sekitar 500 buku, buah karya Pujangga Yosodipura dan Ronggowarsito. Sedang karya yang terkenal di antaranya ialah Joko Lodang, Serat Kolotido, Tjemporet, dan lain-lain. Selain koleksi buku-buku yang menarik para pengunjung juga koleksi benda-benda kuno yang tidak kalah menariknya, di antaranya patung kepala raksasa yang terbuat dari kayu yang dipergunakan sebagai “Canthik perahu” atau kepala perahu bagian muka, patung kepala ini bernama Rojomolo dan merupakan koleksi benda kuno yang paling besar bentuknya yang terdapat di dalam Museum Radyapustaka.

Sebetulnya patung Kiai Rojomolo ini ada dua, yang satunya tersimpan di Art Gallery Keraton Surakarta. Adapun menurut keterangan canthik Rojomolo ini adalah buah tangan Sri Susuhunan Paku Buwono ke-5 sekitar tahun 1820 1823.Pembuatannya ketika beliau masih menjadi putra mahkota. Kiai Rojomolo itu rencananya akan digunakan pelayaran garwo permaisuri Paku Buwono ke-4 yang berasal dari Pamekasan Madura. Namun rencana tersebut tidak dapat terlaksana yang akhirnya perahu tersebut digunakan untuk membagi-bagikan makanan kepada rakyat ketika ada banjir. Pelayarannya melalui Bengawan Solo bahkan sampai Gresik dan Surabaya.

 Kiai Rojomolo yang ada sekarang ini kadang-kadang menunjukkan keanehannya ialah mengeluarkan bau amis atau anyir seperti bau ikan. Keanehan ini akan muncul bila lupa akan pem-berian sesajinya. Radyapustaka dari dahulu hingga sekarang ini telah menumbuhkan semangat kehidupan bangsa Indone-sia yang melestarikan dan mengembangkan sejarah bangsa-nya hingga sekarang. Dengan demikian Museum Radyapustaka dapat merupakan salah satu di antara obyek-obyek pariwisata yang banyak di-kunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik. Dalam hal ini berarti dapat menambah devisa negara. Demikianlah sekitar menelusuri Museum Radyapustaka di Surakarta.

museum surakarta
museum surakarta

PELESTARIAN MUSEUM RADYAPUSTAKA SURAKARTA

Bertempat di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo terdapat museum tertua di Indonesia. Museum tersebut terkenal dengan sebutan Museum Radyapustaka yang didirikan tanggal 28 Oktober 1890 oleh K.R.A Sosrodiningrat IV yaitu pada zaman Sinuhun Paku Buwono IX. Selain untuk penyimpanan benda-benda kuno atau ben-da bersejarah juga sebagai salah saw lembaga ilmu pengeta-huan yang tertua, sesudah lembaga ilmu pengetahuan “Bataviaasch Genootscap” yang bertempat di Jakarta yang didiri-kan oleh Belanda tahun 1778. Karena museum ini sangat tua, maka segala aktivitas yang diadakan oleh lembaga ini merupakan hal yang bersejarah.

Contohnya: Adanya kursus-kursus pedalangan antara tahun 1923 1942 dan sebagai tenaga pengajar Ng. Lebdotjarito dan Ng Do-todiprodjo. Kursus tari, kursus bahasa Jawi Kawi oleh Drs. Kraemerdan dan Dr. Th. Pigeaud sekitar tahun 1926 — 1929. Sedang obyek untuk para tamu dari luar negeri yang pertama ialah seni ukir, menyungging wayang, batik, dan sebagainya Sudah sejak dahulu museum ini sudah sering dipakai sebagai tempat ceramah-ceramah, khususnya mengenai ilmu pengeta-huan dan agama, sedang para penceramah ialah para ilmuwan yang cukup tangguh bahkan ada juga yang datang dari luar negeri.

Dengan keadaan demikianlah maka Museum Radya-pustaka menjadi koleksi buku-buku bersejarah yang cukup lengkap dan bermutu. Bahkan di dalamnya masih banyak naskah-naskah tulisan yang masih ditulis dengan tangan yang langsung dari si pe-nulisnya sendiri. Mengingat pentingnya arti Museum Radyapusataka itu, maka buku-buku yang ada di dalamnya oleh ketua Presidium K.R.T Hardjonegoro dibuatkan Micro Film dan Katalog di mana di-singkrunkannya Perpustakaan Keraton dan Mangkunegaran. Langkah ini diambil mengingat buku-buku yang ada sudah tua dan menghindari kerusakan dan kepunahannya.

 Selain Radyapustaka ini untuk perpustakaan juga di-gunakan menyimpan benda-benda kuno serta bersejarah dan lengkap, sedang pemilik benda kuno yang ada di situ ialah Ingkang Sinuhun Paku Buwono, Sosrodiningratan, Hadiwi-djayan, dan Radyapustaka. Sedang benda-benda milik Radyapustaka ialah tombak Mata-ram bertatahkan kamarogan yang dibeli dari Tjokrosoemar-to. Ukir-ukiran Madura yang dibeli dari Wongsosoedarmo, arca perunggu dari Pridjomargongso, arca Bali dari K.G.P.A.A. Mangkunegoro VII dan masih banyak yang belum tersebut untuk itu kami persilakan bila longgar sambil rekreasi ke Solo untuk menyempatkan waktu mchhat langsung dari dekat dan mohonlah penjelasan kepada juru kunci. Sampai saat ini lembaga Museum Radyapustaka ini sudah mengalami pergantian 5 x .

Pertama : R.T.H. Djoyodiningrat II 1899 1905

Kedua : R.T. Djojonegoro 1905 — 1914

Ketiga : R.T. Wurjaningrat 1914 — 1926

Keempat : G.P.H. Hadiwidjojo 1926 — 1960

Kelima : K.R.T. Hardjonegoro 1960 hingga sekarang.

Meskipun keadaan museum selalu mengalami pasang surut-nya keadaan namun Bapak K.R.T. Hardjonegoro ini pantang menyerah. Pada tanggal 11 November 1951 museum ini pernah mendapat bantuan subsidi pemerintah berupa uang dan tenaga pegawai. Hal tersebut merupakan subsidi yang pertama dan untuk kelestariannya subsidi tersebut macet, untuk itu jelas segala kegiatan yang ada di dalamnya berhenti.

Untunglah Bapak K.R.T. Hardjonegoro orangnya cukup ulet dan pantang menyerah dengan keadaan, dengan bukti meskipun bagaimana yang terjadi namun suasana museum tetap dapat dibangkitkan kembali yaitu dengan dana-dana yang tidak stabil itu mencoba terus sedikit demi sedikit untuk mengadakan penyegaran museum yang semula hampir pudar. Dengan dana yang minim pertama kali merehap kantor lama yang semula dari dinding bambu sekarang sudah permanen, kemudian yang langkah selanjutnya ialah mulai membenahi dan menata kembali benda-benda kuno sesuai dengan alam-nya. Artinya yang tak terurus mulai diatur menjadi rapi dan membikin para pengunjung menjadi tertarik akan kebudayaan bangsa kita di kala yang silam. Selanjutnya yang semula semua gamelan menjadi “Bungkam” atas partisipasi masyarakat maka gamelan-gamelan itu sekarang mulai kedengaran meng-alun lagi.

Museum adalah bukannya “tong sampah” tempat membu-ang benda-benda kuno melainkan adalah untuk menyim-pan benda bersejarah sebagai warisan budaya yang harus kita hormati dan kita merasa handarbeni. Dengan melihat keadaan yang ada maka Bapak K . R . T. Har-djonegoro berkata, “Saya belum mau mati dengan mata tertutup seandainya cita-cita saya belum terkabul.” Cita-cita itu ialah mengajak para generasi penerus agar memiliki jiwa mengabdi dan cinta terhadap museum, serta merasa ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian budaya bangsa yang berwujud benda-benda kuno sekaligus merasa handar-beni.

 Demikianlah keadaan Museum Radyapustaka di Sura-karta hingga sekarang. Semoga pemerintah, masyarakat, dan para generasi muda ikut berpartisipasi untuk kelestarian budaya bangsa sesuai dengan cita-cita yang diharapkan Bapak K.R.T. Hardjone-goro. Semoga hal ini dapat sambutan para pembaca dan dengan harapan lewat bacaan ini pembaca akan mengingat kebudayaan bangsa sendiri dan mau membantu akan kelesta-riannya. Pertama hal ini mengingatkan bahwa “bangsa yang agung ialah bangsa yang tinggi kebudayaannya.” Kedua dengan adanya kelestarian kebudayaan benda-benda bersejarah, maka akan mengundang para turis untuk ingin tahu dari dekat tentang kebudayaan bangsa kita lewat “mu-seum-museum”. Dengan demikian menambah pendapatan negara yang akhirnya untuk menunjang perbaikan-perbaikan museum sedikit demi sedikit. Nah, sampai sekian dahulu kita memandang dari dekat ten-tang museum Radyapustaka. Semoga museum-museum yang lain di Indonesia ini dapat ditingkatkan, baik sarana komu-nikasi dan tempatnya sehingga para turis asing biar berda-tangan untuk menyaksikan kebudayaan peninggalan sejarah nenek moyang kita dari dekat.

museum radya pustaka
museum radya pustaka

Dunia Keris

legenda keris pusaka

Check Also

dewi anjani gambar tokoh wayang kulit purwo

Dewi Anjani

Tokoh Wayang Kulit / Wayang PurwaRaden HanomanPrabu SugriwaResi SubaliDewi AnjaniRamaparasuBambang SukrasanaPrabu Arjunasasrabahu (Arjuno Sosrobahu)Bambang SumantriAyahnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *