Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Minggu yang semenjak pagi Jogja bergelayut mendung saya akan ajak kisanak membincang lagi-lagi tentang Majapahit. semoga sampeyan tidak bosen.

Sampeyan masih inget lagu ini,nenek moyangku seorang pelaut, getol mengarung luas samudera, menerjang ombak tiada tara, menggulung badai sudah biasa. Ya, bener, lagu yang seringkali kita apalkan semenjak SD itu.

Tentu lagu tersebut bukan tanpa alasan jelas hingga semenjak pendidikan dasar, lagu ini sebagai favorit hapalan waktu pelajaran kesenian. Bener kan.

Secara tersirat, lagu diatas menggambarkan kejayaan masa lampau embah buyut kita di bidang maritim. Tidak poly yang tahu, meski Majapahit terpusat di pedalaman Jawa, ternyata dalam sejarahnya Majapahit termasuk penguasa lautan.

Ketika misalnya menyebut nama Raden Wijaya, Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Brawijaya saya konfiden dalam benak kita langsung memilih kata Majapahit. Ada yang salah. Tentu tidak, karena memang begitulah adanya. Namun kita seringkali lupa, dibalik kejayaan Majapahit dalam sejarah penaklukan buat mempersatukan nusantara ada satu nama yang layak disejajarkan dengan beberapa nama yang saya sebutkan barusan. Dia adalah, Laksamana Mpu Nala. Ya, dia adalah sosok penting dibalik suksesnya perluasan Majapahit dalam memperluas wilayah kekuasannya.

Tentu dalam suksesnya Mpu Nala dalam sejarah ekspansinya bukan semata-mata kecakapannya semata, barang tentu ada penunjang dibelakangnya. Angkatan laut Majapahit pada masanya bisa dikatakan salah satu angkatan laut terbesar di dunia. Sayangnya penguasa lautan yang di wariskan Majapahit ini tidak diwarisi oleh kerajaan selanjutnya.

Perlahan tetapi pasti, popularitas Jawa (Nusantara) mulai meredup total saat Panembahan Senopati merebut kuasa atas Pajang. Senopati dengan Mataramnya sungguh melupakan lautan. Lebih dari itu, Senopati malah membubarkan dan menelantarkan armada laut yang selama ini sebagai kedigdayaan nusantara.

Senopati mengisolasi Jawa dari luar. Akibatnya, dominasi negara maritim yang pernah berjaya itu terus meredup. Apalagi para penerus Panembahan Senopati senantiasa menakut-nakuti rakyatnya agar tidak melaut dengan kisah angker Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan Jawa. Perilaku raja yang meminggirkan negara maritim dan melupakan sejarah kejayaan sebagai penguasa dunia itu mengakibatkan Jawa kian terpuruk.

Hal ini pula yang sebagai salah satu pendorong bangsa Eropa, khususnya Belanda, dengan mudah menaklukkan Jawa. Sebagaimana dikatakan raja Mongol, Kubilai Khan, jikalau pasukan Mongol mampu mengalahkan Jawa maka negara-negara lain akan tunduk dengan sendirinya. Ia konfiden dengan ucapannya itu karena memang tidak mudah menaklukkan tentara dan dominasi niaga yang dibangun Jawa. Sepanjang kariernya, Mongol kalah telak melawan pasukan perang dari Jawa. Prediksi Kubilai Khan memang benar.

Ketika Belanda berhasil menaklukkan dan menguasai Jawa dengan mudah karena memang minim perlawanan dari penguasa Jawa, semenjak saat itulah VOC terus berkibar. Ia memonopoli perniagaan hampir setara dengan yang dikuasai Jawa. Sejak itulah, hari demi hari Jawa penuh dengan kegelapan. Nasibnya serupa dengan Eropa pasca-Romawi. Bahkan lebih tragis lagi, rakyat Jawa telah menjelma sebagai budak-budak dari kolonialis tersebut.

Maka tidak mengherankan jikalau ada ungkapan pewaskita yang mengatakan, jikalau kita ingin mewujudkan kehidupan warga bangsa yang maju, mutakhir, sejahtera, dan sebagai adidaya maka kita harus permanen di laut dan menguasai kembali lautan.

Menilik dari narasi di atas, atau dalam bahasa lainnya jikalau kita tarik dalam konteks kekeinian, Indonesia dapat bersinar lagi di kancah perekonomian global jikalau dan hanya jikalau seluruh pemimpin negeri mempunyai kebijakan kuat di laut. Apalagi sekitar 70 persen wilayah Indonesia berupa laut.

Tak hanya itu. Indonesia adalah negara yang mempunyai garis pantai terpanjang ke 2 di dunia sesudah Kanada. Dengan keunggulan tidak poly dimiliki bangsa lain tersebut dan didukung sejarah budaya maritim yang kuat, dan kemauan buat berubah maka pasti kita mampu mengembalikan kejayaan Nusantara di masa silam.

Mpu Nala dalam membentuk kekuatan laut yang tersohor kala itu, ia menemukan sejenis pohon raksasa yang dirahasiakan lokasinya, buat membentuk kapal-kapal Majapahit yang berukuran akbar pada masanya. Bahkan kapal-kapal tersebut sudah dipersenjatai berupa meriam Jawa.

Berkaitan dengan meriam ini, konon Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa waktu hendak membalas penghinaan yang dilakukan oleh Kertanegara saat mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singosari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok.

Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana. Selanjutnya Gajah Mada mengembangkan senjata api itu buat mempersenjatai kapal-kapal perang Majapahit ciptaan Mpu Nala yang istimewa itu, hingga mampu merajai wilayah di perairan Selatan (Nan Yang).

Armada Majapahit dengan persenjataan yang canggih pada masanya dan berkekuatan 40.000 prajurit sebagai sesuatu kekuatan dahsyat tidak ada tandingannya di Asia Tenggara. Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah manunggal di bawah panji kerajaan Majapahit, kecuali kerajaan Sunda.

Tahun 1343 / Bali diserang dan berhasil ditaklukkan Majapahit. Serangan oleh armada Majapahit ini di bawah komando langsung Gajah Mada. Tahun 1343 / Mahapatih Gajah Mada dibantu oleh Laksamana Mpu Nala memimpin armada laut Majapahit dengan kekuatan 3.000 prajurit menuju wilayah timur Nusantara buat menaklukkan kerajaan-kerajaan yang bersikap dingin atau mencoba melepaskan diri. Kerajaan itu antara lain: Bali, Lombok, Sumbawa, Seram, Sulawesi, Dompo.

Seluruh wilayah timur Nusantara telah disatukan, termasuk Pulau Irian, Sanggir Talaud, sampai kepulauan Filipina Selatan. Pasukan kekuatan Majapahit tidak semuanya berasal dari pusat pemerintahan. Namun, hampir dua per tiga justru berasal dari kerajaan Melayu dan gabungan beberapa dari kerajaan di wilayah Jawa yang sudah mengakui kekuasaan kerajaan Majapahit.

Salah satu kisah peperangan Mpu Nala yang tertuang dalam sejarah verbal adalah waktu tahun 1350. Ketika itu, Laksamana Nala mengadakan ekspedisi ke Nansarunai dengan menyamar sebagai nahkoda kapal dagang. Di Nansarunai ia memakai nama samaran Tuan Penayar dan bertemu dengan raja Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, dan Ratu Dara Gangsa Tulen.

Laksamana Nala sangat kagum melihat begitu poly barang-barang terbuat dari emas murni, waktu ia dipersilahkan buat melihat-lihat perlengkapan pesta istiadat di ruangan tempat bermusyawarah. Yang sangat dikagumi oleh Laksamana Nala, ialah Soko Guru balai istiadat yang terbuat dari emas murni juga dimana dibagian atasnya bermotif patung manusia.

Setelah kembali ke Majapahit, Laksamana Nala berpendapat, buat menundukkan Nansarunai, harus dicari kelemahan raja Raden Anyan yang mempunyai kharisma kuat. Pada pelayanan berikutnya, Laksamana Nala membawa dan seorang panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau, dan beberapa prajurit dari suku Kalang. Hasil pengamatan Demang Wiraja dilaporkan kepada Laksamana Nala.

Demikianlah pada awal tahun 1356, Laksamana Nala datang lagi ke Nansarunai dengan membawa dan istrinya bernama Damayanti. Sewaktu kembali ke Majapahit, sengaja Laksamana Nala membiarkankan isterinya tinggal di Nansarunai. Damayanti berwajah sangat cantik dan pribadinya menarik.

Pada tahun 1356 itu, terjadi kemarau panjang, sebagai akibatnya raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan. Pertemuan pertama berlanjut dengan ke 2 dan demikian seterusnya, sebagai akibatnya Damayanti melahirkan seorang anak perempuan, lau diberi nama Sekar Mekar.

Pada awal tahun 1358, Laksamana Nala datang ke Nansarunai dan menemukan isterinya sedang menimang seorang anak perempuan. Damayanti yang memakai nama samaran Samoni Batu, menerangkan bahwa anak yang ada dipangkuaanya itu adalah anak-anak mereka berdua. Dan Laksamana Nala percaya saja akan apa yang telah dikatakan oleh isterinya tersebut.

Ketika kembali ke Majapahit, Damayanti beserta anaknya dibawa dan, lalu tinggal dipangkalan armada laut Majapahit di Tuban. Beberapa bulan kemudian, Laksamana Nala secara kebetulan mendengar isterinya bersenandung buat menidurkan puterinya dimana syair-syairnya menjelaskan bahwa Sekar Mekar mempunyai ayah yang sebenarnya ialah raja Raden Anyan.

Bulan April 1358, datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Laksamana Nala dan Demang Wiraja menyerang Nansarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk. Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nansarunai walaupun mereka kurang terlatih.

Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning. Ia poly menimbulkan korban pada pihak musuh sebelum ia sendiri gugur.

Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi. Diatas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong akbar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh.

Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Laksamana Nala memerintahkan Demang Wiraja buat mencari Raden Anyan hidup atau meninggal. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan.

Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Laksamana Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nansarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah verbal suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa.

Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha. Ia poly bergaul dan bersahabat dengan pelaut-pelaut berasal Bugis dan Bajau. Untuk mengenang persahabatan itu, maka puterinya yang lahir waktu ditinggalkan sedang berlayar, diberi nama berbau Bugis yaitu La Isomena.

Prajurit-prajurit Majapahit yang gugur dalam perang tahun 1358 itu, diperabukan berikut persenjataan yang mereka miliki, didekat sungai Tabalong yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Tambak-Wasi. Tambak arti kuburan dan Wasi artinya besi dalam bahasa Maanyan kuno. Sehingga Tambak-Wasi artinya adalah kuburan yang mengandung unsur besi.

Keturunan Mpu Nala terus melanjutkan kepemimpinan militer Majapahit. Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya apalagi militer laut sudah demikian parah dalam melakukan tindak korupsi di wilayah kekuasaan masing-masing, sebagai akibatnya rakyat tidak lagi menghormati kekuasaan pemerintahan pusat. Dan menurunkan wibawa Majapahit di kalangan kerajaan taklukannya.

Di masa kehancuran itu Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya. Sehingga seperti yang terjadi kemudian, kekuatan laut yang tersohor di Nan Yang itu saling bertempur satu kapal dengan kapal yang lain.

Orang Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini. Walaupun poly yang memberitahuakn bahwa orang Tionghoa lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa.

Narasi di atas adalah kutipan dari buku Da Asia karya Diego de Cauto yang terbit tahun 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad XVI itu menjelaskan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad XVI berkulit cokelat seperti orang Jawa.

Mereka mengaku keturunan Jawa, kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Ketika pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat penting, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis sebagai kota orang Jawa.

Di sana poly saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membentuk galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan bahtera bercadik belakangan disebut sebagai Kapal Borobudur.

Sekilas Tentang Konstruksi Kapal Borobudur

Konstruksi bahtera bercadik sangat unik. Lambung bahtera dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip.

Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, dan layar berbentuk segi empat. Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok mempunyai kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.

Kapal Borobudur telah memainkan peran akbar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun sebelum abad XIII. Memasuki awal abad VIII, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal kapal Jawa yang berukuran lebih akbar, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan bepergian Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta yang berlayar ke Nusantara, awal abad XIV mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tidak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai berasal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) buat menyerang armada Portugis.

Disebutkan, jung Jawa mempunyai empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat dan mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung homogen-homogen sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa buat menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung jawa ini disandingkan dengan kapal induk di era mutakhir sekarang ini.

Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa. tulis pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel (1515). Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka.

Puncak kejayaan Majapahit terukir pada 1450-an. Bayangkan, waktu itu wilayah kekuasaan Jawa mencakup luas mulai dari Nusantara, Indocina, China, dan India. Kejayaan tersebut tidak terlepas dari penguasaan teknologi kapal laut yang memang saat ini sebagai satu-satunya transportasi laut yang menghubungkan daerah-daerah kekuasaannya. Kapal Jong Majapahit sangatlah disegani.

Dalam buku Majapahit Peradaban Maritim (2011), jumlah armada Jong Majapahit waktu itu mencapai 400 kapal. Bandingkan dengan armada kapal yang dimiliki VOC (Belanda), EIC, Spanyol, dan Portugis pada tahun sesudahnya (1674). Kalau kekuatan itu digabung, mereka yang menguasai India, Nusantara, Indocina, dan China hanya mempunyai 124 kapal.

Berdasarkan catatan sejarah dari China dan Portugis, Jawa atau Nusantara melakukan poly sekali pelayaran menyeberangi Samudra Hindia dengan kapal akbar ke Madagaskar pada abad III hingga XVII. Kapal berbobot lebih dari 500 ton itu tentu saja termasuk kapal tercanggih di zamannya. Bukan apa-apa, kapal layar berukuran panjang sekitar 70 meter itu mampu membawa penumpang sebesar 600 orang.

Kapal-kapal itu biasanya dilengkapi dengan empat layar yang terbuat dari tanaman yang dianyam. Ketika angin berembus, layar-layar itu mudah digerakkan sesuai arah angin. Dengan demikian, laju kapal dapat bergerak lincah sesuai tujuan. Sekali lagi, Jawa telah memberitahuakn penguasaan teknologi maritimnya. Coba bandingkan dengan kapalkapal perintis yang dibuat bangsa Eropa.

Kapal Gracedieu buatan Inggris pada 1418 misalnya, mempunyai panjang hanya 54 meter. Lagi pula kapal ini tidak mampu berlayar. Bertahun-tahun hanya mengapung dan akhirnya ludes terbakar dilalap si jago merah. Lalu, diluncurkan Kapal Christoporus Columbus pada 1492 dan Vasco da Gama (1497). Kapal-kapal tersebut hanya mempunyai kapasitas masing-masing 88 dan 171 penumpang.

Kapal-kapal akbar Eropa baru hadir sesudah melewati hubungan interkasi dengan kapal-kapal yang digunakan di wilayah-wilayah yang mendapat efek kuat dari Jawa. Ada beberapa fakta memberitahuakn, perdagangan yang dikelola Jawa jauh melampaui gabungan pedagang akbar di wilayah Eropa.

Kedigdayaan Jawa waktu itu sungguh tidak ada yang mampu menandinginya. Dengan armada laut yang kuat dan gagah perkasa itulah, para pendahulu kita mampu mengendalikan pelabuhan-pelabuhan yang sebagai sumber perekonomian Nusantara. Tak berlebihan kalau tempo dulu (abad XII) Jawa sangat termasyhur di jagat raya.

Bahkan seorang ekonom China pernah menulis, dari semua kerajaan asing yang kaya raya (mempunyai cadangan devisa berlimpah ruah), kehebatan bangsa She-po (Jawa) berada di urutan ke 2 sesudah bangsa Ta-shih (Arab). Urutan ketiga ditempati San-fo-Chi (Sriwijaya). Marco Polo menyampaikan, jumlah emas yang dikumpulkan Majapahit lebih poly daripada yang dihitung dan hampir tidak dapat dipercaya. Jawa sebagai pemegang rekor sebagai kerajaan yang paling poly mempunyai cadangan logam mulia tersebut.

Uniknya lagi, cadangan tersebut bukan berasal dari perut bumi di tanah Jawa. Bongkahan emas-emas itu dikumpulkan melalui aktivitas pengendalian pelabuhan-pelabuhan di dunia. Saking kaya rayanya Jawa, membuat bangsa Mongol pernah menargetkan penyerangan akbar-besaran di wilayah Jawa yang berada di Samudra Selatan (Samudra Hindia). Namun mereka tidak pernah berhasil mewujudkan impiannya itu.

Barus dan Cengkeh
Selain menguasai teknologi perkapalan dan navigasi (peta), Nusantara juga diperkuat dengan kekuatan agraris yang tiada tara. Dari ujung daratan Sumatra Utara, tepatnya di Kota Barus, dulu dikenal sebagai penghasil kapur barus yang diperoleh dari pohon kamper (Dryobalanops aromatica). Barus sudah sebagai catatan tertua pakar filsafat termasyhur dari Alexandra, Ptolemaeus sebagai penghasil bahan pengawet yang harganya melebihi emas.

Sudah sebagai rahasia umum kalau jasad Raja Mesir Kuno, Firaun masih utuh hingga kini lantaran dibalsem dengan menggunakan kapur barus berasal Nusantara. Sejarah mencatat, semenjak tahun 3000 Sebelum Masehi (SM), kapur barus telah melanglang buana ke Mesir. Hal ini memberitahuakn, Jawa dan Mesir sudah lama melakukan diplomasi niaga melalui armada laut. Kapur barus ini sudah diniagakan semenjak 6.000 tahun silam.

Tak ada alternatif, perdagangan tersebut dapat terjadi melalui angkutan kapal laut. Bergeser ke timur, tepatnya di Maluku, juga terhampar luas cengkeh yang kelak di kemudian hari membuat Belanda sangat bernafsu buat menguasainya. Catatan mengenai popularitas cengkeh dari Maluku dikemukakan arkeolog Giorgio Buccellati. Dari rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah pada 1700 SM, ia menemukan wadah berisi cengkeh.

Ketika itu di dunia, cengkeh hanya diketahui dapat tumbuh di pulau-pulau kecil di Maluku. Rempah-rempah ini telah sebagai barang berharga bagi para pembesar yang dapat digunakan buat aneka keperluan mulai dari perasa makanan, minuman, obat-obatan, dan rokok lantaran mempunyai cita rasa prima. Cengkeh Maluku bisa sampai ke Efrat tersebut berkat peran para pelaut Jawa yang dengan gagah berani mampu menaklukkan samudra luas hingga ke Timur Tengah, Eropa, dan Cina.

Kalau sekarang ini ekonomi Indonesia terpuruk dan kalah jauh dibandingkan dengan kekuasaan Jawa tempo dulu, tentu ada yang salah dalam membentuk dan menata bangsa ini. Laut yang harusnya sebagai pemersatu bangsa terkesan dibiarkan, tidak diurus sebaik-baiknya. Terbukti, pelayaran niaga yang melayani ekspor-impor di perairan Nusantara kini dikuasai asing.

Dari seluruh kapal niaga yang melayani kebutuhan tersebut, hanya 10 persen yang berbendara Indonesia. Sisanya, yang 90 persen dioperasikan oleh pihak asing. Ya, kini kita seperti sebagai penonton di rumah sendiri. Kita telah tega meninggalkan sejarah gemilang yang telah terukir itu. Sekian. Nuwun.

Dirangkum dari poly sekali sumber

Leave a Reply