Selamat datang pergi kerabat perkerisan, seperti dalam pepatah Sedia payung sebelum hujansekiranya sangat rupawan buat diterapkan dalam aspek kehidupan ini. Apalagi hidup seperti di zaman sekarang, menjaga atau mengantisipasi diri menurut segala kemungkinan yang buruk, dan saya yakin kita semua setuju itu lebih baik daripada kita mencari jalan munculnya. Untuk itu, mungkin nukilan yang saya ambil dariSerat Primbon Shahdatsathir Adammaknaini mampu menjadi solusinya.

Sering dalam poly sendi kehidupan, poly orang yang merasa nir mempunyai kesalahan kepada orang lain, akan tetapi kepada suatu waktu permanen saja ada orang yang berniat buruk, akan membuat celaka. Umpamanya akan menganiaya, bahkan hingga membunuh dan sebagainya.

Hal semacam ini nir mampu dirancang ringan, lantaran peristiwa seperti itu poly sekali, dan datangnyaa pun nir dikira. Maka perlu disyarati supaya jauh menurut perbuatan jahat tadi.

Nah, dalam Serat kitabPrimbon Shadatsathir Adammaknayang saya sebutkan diatas, jika hal tadi dapat ditangkal/disyarati dengan laris sebagai berikut;

Mengambil beras sebesar genggaman tangan kita sendiri, kepada hari Jumat pahing siang (Dzuhur), terus dirancang bedak. Beras tadiharus diambil satu kali dilarang lebih. Dan yang mengambil wajib yang memakai sarana ini. Tidak boleh diwakilkan!
Beras tadi di tumbuh halus lalu dijadikan bedak/pupur. Terus dijemur sinar matahari dengan alas daun keladi/lumbu.
Diletakkan diatas tampah/nyiru atau kawasan lainnya, asalkan bukan terbuat menurut logam. Daun keladi/lumbu wajib dipetik hari Jumat Pahing itu maupun, persis tengah hari. Setelah beras halus, wajib cepat-cepat mengambil daun keladi tadi.
Waktu memetik daun ini dilarang diwakilkan kepada orang lain wajib diambil sendiri dan dilarang mengerjakan yang lainnya. Misalnya saja berbelanja, makan, ngemil, dll. Jadi hanya satu tujuan, yaitu memetik daun.
Setelah mendapatkan daun tadi, membuat bedak dan menjemurnya boleh dilakukan oleh orang lain. Lebih pokok dilakukan sendiri. Setelah bedak tadi selesai, terus ditaruh ditempat yang telah diberi alas daun keladi. Sebelum dijemur, ambillah garam sedikit ditaburkan di bedak tadi, terus dijemur.
Syarat di atas harusdilakukan dengan betul. Selama dijemur, daun keladi tadi itu wajib permanen dipakai sebagai alas. Tidak boleh diganti.

Cara Menggunakannya
Hari Jumat Pahing waktu tengah hari, bedak tadi wajib dipakai semua sebelum bersuci/mandi. Bedak dilarang dicampur dengan air, terus dibedakkan keseluruh tubuh, mulai menurut wajah, badan, tangan, dada, perut, jika masih agak punggung dan kaki.

Setelah homogen terus berangkat ke kamar mandi denga maksud bersuci. Syaratnya wajib permanen berbalut kostum, dilarang telanjang lingkaran. Ketika akan mandi bacalah bacaan mantera (sudah saya translate dalam bahasa Indonesia) seperti ini:

Dengan kondisi menurut Kaki Sang Hyang….dan Nini Sang Hyang…yang saya lakukan di hari jumat, segala kecelakaan, mara bahaya, dan penghalang, yang akan dilakukan oleh orang terhadap diriku, secara berhadapan atau menurut belakang, akan nir terkena, seperti air jatuh di daun keladi, dan hilang seperti hilangnya garam di air. Dengan mandi sesuci, sebagai sesci diri, membersihakn segala mara bahaya (pancabahaya), yang akan datang. Kalau ada orang yang iri dan sakit hati dan akan membalas tindak jahat, itu semua akan sirna, ikut terhanyut aliran air dan nir akan pergi lagi

Setelah membaca mantera tadi terus wajah yang sudah dibedaki dibasuh dan digosok, pakai tangan. Terus lepaskan kostum seluruhnya (seperti bayi yang baru lahir).

Sampai disini telah selesai sarat dan laris. Insya Allah segala perbuatan jelek akan pergi, entah bagaimana caranya, yang niscaya musuh terus mempunyai rasa welas, was-was, takut, dsb. Atau malah jadi asih mengasihi. Akhir celoteh agak sekian tulisan singkat ini, sekali lagi ini hanya sebuah wawasan saja, semua pergi kepada diri kita masing-masing, lantaran laris ini setidaknya pernah dilakukan lelehur kita kepada zaman dahulu, khusunya orang Jawa. Sekian dulu hingga jumpa kepada tulisan berikutnya. Syukur-syukur meninggalkan komentar…maturnuwun

Leave a Reply