web analytics
Candi Sukuh Antara Erotisme serta Kawruh Sangkan Paraning Dumadi - DUNIA KERIS

Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Siang itu gerimis rintik-rintik ketika aku dalam bepergian menuju candi sukuh ini. Terpaksa beberapa kali wajib menepikan motor, karena ketika gerimis jalanan cenderung licin. Maklum belum seberani si Markes atau Vinyales buat urusan jatuh. Maklum masih amatiran. Bagi pemotor semi sport memang bepergian ke candi Sukuh ini tidak mengecewakan menyenangkan karena banyak tikungannya, itu kalau tidak hujan.

Oh iya, Candi Sukuh ini terletak di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar , Jawa Tengah. Candi Sukuh dilaporkan pertama kali ditemukan oleh Residen Surakarta, Johnson, 1815, dalam keadaan runtuh. Penemuan di masa kekuasaan Inggris itu, di masa Gubernur Jenderal Thomas Stanford Raffles, yg juga menyusun bahan-bahan buat kitab The History of Java. Nah, kepada kesempatan kali ini aku akan bagikan kunjungan aku ke candi yg dibangun kepada periode akhir kerajaan Majapahit tersebut.

Banyak hal yg dikaitkan kepada candi ini, diantaranya barangkalai kerabat perkerisan telah mengetahuinya, yakni tentang mitos buat mengetes keperawanan, sebagian juga terdapat yg menyebutkan bahwa candi ini ialah candi porno. Dan yg tidak kalah menghebohkan juga, candi sukuh ini dikaitkan dengan pendatang asing yg bernama alien itu, mitos ini bisa jadi karena bentuk candi sukuh ini mirip piramida Mesir atau di Amerika Selamatan, hingga peradabatan Sumeria.

Aika kerabat perkerisan kebetulan berkunjung kesana, hal hal diatas dapat kita maklumi. Tidak sedikit wujud menyimpang dari arsitektur Hindu mirip candi-candi lain di Jawa Tengah. Bentuk-bentuknya aneh serta asing, mirip insan bersayap serta makhluk berkepala akbar. Pokoknya aneh aneh wes.

Hingga sampeyan membaca tulisan ini, misteri tersebut belum terjawab tuntas secara ilmiah. Dari sini masuklah sejumlah spekulasi, bahkan kisah-kisah fiksi. Aika sampeyan membuka blog video YouTube, contohnya terdapat sejumlah tayangan yg mengulas Sukuh menjadi bagian peradaban antik yg memiliki ''guru'' yg sama: aliens.

Spekulasi ini kebanyakan didasarkan  kepada sebuah patung insan berkepala burung yg mengenakan heml. Ada pendapat yg menyebutkan patung tersebut dibelakangnya terdapat baling balingnya. Tapi aku rasa tidak mungkin kebudayaan dibangun dengan makna yg dangkal, termasuk Candi Sukuh. Sejarah juga tidak mencatat semua perkembangan pemikiran serta kebudayaan insan. Bisa saja terdapat rendezvous atau peniruan antar-kebudayan yg tidak dicatat dalam sejarah.

Tanpa desas-desus tentang aliens pun, sejatinya kompleks Candi Sukuh telah menarik. Keistimewaan telah tampak dari gapura paduraksa yg menjadi pintu ke teras pertama dari 3 taraf kompleks Sukuh. Sepintas bentuk gapura ini mirip pylon, gapura piramida Mesir. Namun keunikannya tidak cuma itu: setiap sisi gapura dihiasi dengan relief serta patung dari pelbagai wujud.

Bagian atas pintu gapura terdapat kepala kala berjanggut panjang yg tidak ditemui di candi Hindu lain. Kanan serta kiri dari sisi depan serta belakang gapura dihiasi relief sosok super besar. Penggambarannya tidak sinkron namun aksinya sama: memangsa.

Di sebelah kiri terdapat gapura buta aban wong atau gapura super besar memakan insan. Sisi kanannya, si super besar menggigit ekor ular –"Gapura Buta Anahut Buntut". Persis di sisi sebaliknya juga terdapat relief dengan laku homogen. Relief itu merupakan candra sengkala, yakni sistem penanda tahun Saka yg dengan tutur serta gambar menjadi simbol angka. Meski beda gambar, semua relief punya makna sengkala sama. Tiap tutur dari kalimat itu secara berturut-turut mewakili angka 9,lima,3 serta 1. Sesuai dengan anggaran candra sengkala yg menyusun angka dari belakang, maka terbaca angka tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Tahun ini menandai selesainya pembangunan gapura.

Sisi samping gapura juga dihiasi patung unik. Satu makhluk dengan kedua sayap terbentang. Kakinya mencengkeram ular berkepala ganda. Sayangnya, kepala makhluk yg menghadap ke depan terpenggal serta hilang. Ornamen Arca ini terbilang detail. Garis-garis gurat sayap serta sisik leher terperinci terlihat. Namun, relief di lantai gapura menjadi zenit keunikan gapura ini: relief bermotif lingga serta yoni. Wujudnya digambarkan dengan terperinci menjadi rendezvous penis serta vagina di dalam untaian menyerupai rantai.

Menariknya, relief lingga yoni di lantai gapura juga menampakan candra sengkala serupa. Bunyinya, "Wiwara Winirasa Anahut Jalu''. Artinya, lubang rasa (kenikmatan) yg menelan penis.

Di gapura primer berkembang mitos: perempuan dapat diketahui status keperawanannya dari melewati gapura ini. Aika lewat serta gaunnya robek, perempuan itu diyakini telah tidak gadis. Tangga serta pintu gapura lebarnya kurang dari satu meter. Kini pintu dipasangi kusen kayu serta digembok. Ini buat menghindari praktik dari agama akan mitos uji keperawanan perempuan di pintu gapura.

Selepas gapura, di sisi kanan teras pertama, terdapat beberapa batu persegi sisa bangunan yg tidak diketahui. Tiga di antaranya memuat relief: insan yg menunggang kuda, gambar kerbau, serta insan yg menaiki gajah serta diiringi babi hutan.

Sebuah gapura dengan enam anak tangga menjadi pintu ke teras kedua. Beda dengan gapura primer, gapura ini tanpa atap menjadi akibatnya mirip gerbang bentar mirip ditemui di candi-candi di Jawa Timur. Kedua sisi di pintu gapura juga pendek menjadi akibatnya gapura ini terkesan tidak utuh. Hanya berupa susunan batu persegi, tanpa ornamen serta relief. Jalan di tengah 2 gapura tambah sempit, sekira 75-80 sentimeter, daripada jalan di gapura pertama.

Kondisi gapura menuju teras ketiga, yakni bagian primer,tidak jauh beda. Di teras kedua ini, di ujung kanan, dipasang susunan batu yg memuat relief 3 sosok. Antara lain relief yg dipercaya menjadi Bima dengan dengan latar belakang aneka senjata, gajah yg menggigit ekor hewan, serta seorang pintar besi. Relief ini pernah dipamerkan di Amerika Serikat serta Belanda, 1991.

Tingkat-taraf kepada Candi Sukuh melambangkan bepergian hidup insan. Teras pertama mendeskripsikan global bawah. Kehidupan global yg serba sulit karena melekatnya nafsu serta dosa kepada diri insan. Ini digambarkan dengan sejumlah patung serta relief super besar yg sedang memangsa.

Relief indera kelamin di pintu masuk juga pribadi menyampaikan kesan Candi Sukuh menjadi blog dengan unsur seksualitas. Namun dalam norma Jawa, lingga serta yoni melambangkan kesuburan sekaligus mengingatkan sumber usul insan menjadi bagian kesadaransangkan paraning dumadiasal serta tujuan kehidupan. Di masa dahulu ini tidak tabu, mirip nama serta panggilan orang Jawa yg merujuk organ kelamin.

Selain itu, lingga serta yoni tersebut dikaitkan juga dengan ritus suwuk. Ini metode eksodus roh jahat yg melibatkan indera kelamin insan. Dalam agama sebagian masyakarat Jawa, roh jahat bisa mengganggu insan. Bentuknya, timbul kejadian di luar akal.

Gangguan roh jahat juga dialami bayi. Ia bisa menangis tidak keruan tanpa karena. Untuk itu, biasanya sang ibu melakukan suwuk, yakni mengusap paras si bayi dengan tangan yg sebelumnya diusapkan di vagina. Adapun sang bapak memutari rumah dalam syarat telanjang.

Seperti yg telah aku narasikan di atas, gapura primer ini juga berkembang mitos: perempuan dapat diketahui status keperawanannya kalau melewati gapura ini. Apabila lewat serta gaunnya robek, perempuan itu dipastikan telah tidak gadis. Sayangnya, sekarang gerbang tersebut dikunci buat menghindari praktek yg sarat mitos itu.

Alasan utamanya mitos tersebut keliru. Sebenernya, mitos itu berkaitan dengan ungkapan dalam tradisi Jawa ''kendo kembene'' atau lepas kembennya; mengacu kepada busana perempuan Jawa zaman itu. Istilah ini buat menampakan status perempuan yg telah tidak lajang.

Tingkat kedua mewakili tahap semi sakral. Manusia disadarkan buat menghilangkan kesulitan hidup dengan menggelar ritual pensucian diri. Makna ini dihadirkan dengan ketiga relief tersebut. Dalam epos Mahabharata, terdapat lakon Bima Suci, yg menceritakan Bima diperintahkan buat mencari air suci.

Adapun dalam agama Jawa Kuno, pintar besi atau empu punya kemampuan magis buat memberkati orang biasa. Penyucian itu dapat dilakukan dengan pengetahuan yg dilambangkan Ganesha, dewa ilmu pengetahuan. Relief ini sekaligus candra sengkala "Gajah Wiku Anahut Buntut'' atau tahun 1378 Saka (1456 Masehi).

Tingkat ketiga menjadi bagian primer Candi Sukuh. Wilayah ini dipercaya paling suci karena dipercaya menjadi ilustrasi akhir bepergian insan mencapai swargaloka. Tingkat ini juga yg paling banyak memajang artefak.

Bangunan primer terperinci ialah candi ''piramida''. Ini karena bentuk dasarnya simetris 15 x 15 meter serta mengerucut ke atas. Kalau aku tidak salah hitung panjang itu setara dengan 45 batu persegi yg menyusun sisi terluar-paling bawah serta terus ditumpuk ke atas. Dengan begitu, keempat sudutnya sebetulnya bertemu di satu klimaks menjadi akibatnya mirip piramida.

Namun bagian atas candi datar menjadi akibatnya sepintas menyerupai piramida terpotong. Di tengah candi terdapat anak tangga dengan lorong sempit menuju bagian atas tersebut. Di sini dijumpai yoni serta sisa-sisa umpak batu, serta bagian depan memiliki ornamen mirip ular.

Dengan syarat itu, peneliti menganggap, bagian atas candi digunakan buat ritual. Saat ini pun sejumlah ritual masih digelar. Ini terlihat dengan adanya sisa-sisa bunga serta dupa di cerukan yoni. Asumsinya, tidak mungkin ritual di zaman itu tanpa bangunan menjadi pelindung atau atap. Bangunan itu diduga berbahan kayu serta diletakkan di umpak batu yg kini tersisa.

Menurut pemandunya, di sisi atas candi yg menghadap ke barat ini juga ditemukan lingga. Namun demi alasan keamanan, lingga tersebut dipindahkan di Museum Nasional, Jakarta tahunnya beliau lupa. Candi primer ''dijaga'' 3 kura-kura super besar. Punggung patung kura-kura ini pipih serta datar karena digunakan menjadi altar. Di depan kura-kura terdapat candi perwara dengan liang mini, tempat sebuah arca tanpa kepala. Dahulu, ini tempat abu Kiai Sukuh alias Kipacitra, leluhur desa. Sisa-sisa bunga serta sesajen masih tampak di liang ini.

Ketiga bentuk bangunan (candi primer, perwara, serta kura-kura) pulang diidentikkan dengan 3 taraf global. Namun tafsir berikutnya mengaitkan ketiga bangunan itu dengan legenda Samudramanthana.

Ini kisah tentang pengadukan samudera oleh para dewa (dilambangkan lingga di candi primer) di kurang lebih Gunung Mandara (disimbolkan dengan perwara) buat menemukan tirta amarta atau air kehidupan. Untuk menjaga agar gunung tidak ikut karam, Dewa Wisnu berubah menjadi menjadi kura-kura Apuka mirip arca kura-kura di kurang lebih candi.

Ketiga bangunan ini diapit 2 anjung batu. Masing-masing memuat relief dengan makna cerita yg tidak berafiliasi. Panggung sisi kiri setidaknya memuat lima relief serta patung. Di sudut kiri depan, terdapat tonggak batu setinggi satu meter yg memuat sosok bersayap serta berparuh dengan 2 perempuan dari karakteristik rambut serta bentuk badannya.

Ketiganya ditafsirkan menjadi Garuda, ibunya Winata, serta Dewi Kadru. Dalam legenda, Winata menjadi budak dari Kadru karena kalah bertaruh tentang rona ekor kuda Uchaiswara, satu dari hewan yg keluar selama proses Samudramanthana.

Padahal, Kadru menang karena curang. Kadru, ibu para naga, meminta anak-anaknya agar menyemburkan bisa, menjadi akibatnya rona ekor kuda menjadi hitam sinkron dengan taruhannya. Atas nahas itu, Garuda meruwat ibunya dengan memohon tirta amarta kepada para dewa.

Untuk mendapatkan tirta amarta, Garuda wajib menempuh ujian dengan menumpas angkara murka. Ihwal ini digambarkan dengan relief di sisi kanan depan. Garuda, dengan ilustrasi tidak mengecewakan detail dari sayap, kepala, ekor, hingga kaki yg memiliki taji mencengkeram gajah serta kura-kura.

Relief kepada bagian dinding yg tidak utuh dibaca menjadi petilan epos Ramayana. Fragmen kisah mana tidak terperinci. Rujukan kepada Ramayana, tutur pemandunya, ditunjukkan oleh satu dari sosok kepada relief yg mirip Anoman.

Bagian relief paling menarik dari anjung ini terdapat di relief di tugu batu setinggi 3 meter. ilustrasi paling mencolok ialah bentuk cembung dengan ujung sedikit terbuka serta menyerupai tapal kuda yg ditafsirkan menjadi rahim. Di dalamnya terdapat 2 sosok berhadapan: satu gagah akbar, satu lagi lebih mini dengan wujud kaya ornamen.

Mereka Bima serta Dewa Ruci dari lakon Bima Suci. Lakon ini berkisah tentang pencarian air suci yg bermuara kepada inovasi jatidiri sekaligus Ilahi. Di bawahnya, di ''lisan rahim'', terdapat relief-relief lain: sebuah rumah dengan sosok insan membawa insan yg lebih mini, serta 2 wujud insan sedang tarik menarik sesuatu.

Ukuran kepala insan-insan itu tidak proporsional, lebih akbar daripada tubuhnya. Ini ialah penggambaran riwayat insan yg dilahirkan, diasuh ibunya, lalu menjadi rebutan antara sisi baik serta tidak baik dari sifat insan.

Di atas ''rahim'', juga terdapat sejumlah relief. Antara lain lima wujud insan, pohon, seekor burung yg berhadapan dengan banyak sekali senjata, serta sebuah rumah. Konon, inilah Garuda yg berhasil membawa tirta amarta ke rumah para dewa.

Panggung batu sisi kanan memiliki tugu batu menyerupai obelisk. Ada relief wujud insan mengenakan mahkota serta menggenggam trisula ganda. Di kurang lebih platform ini, berbatasan dengan perwara serta arca kura-kura, terdapat satu arca yg tidak jarang jadi acum bahwa Sukuh ialah candi erotis bahkan porno.

Patung ini berwujud insan tanpa kepala yg menggenggam penis dengan berukuran akbar, sumbang dengan proporsi tubuhnya. Arca ini bisa dipercaya menjadi Dwarapala. Secara etimologis, ''dwara'' berarti lubang serta ''pala'' ialah pemukul atau gada menjadi kiasan dari indera kelamin laki-laki. Dwarapala bisa dimaknai menjadi epilog lubang atau penjaga.

Beberapa dwarapala ''biasa'' -sosok super besar menyangga gada– berdiri di pelataran candi primer. Kondisinya telah aus. Ciri khas Dwarapala Sukuh polos tanpa ornamen serta aksesoris. Tubuh super besar serta senjata gada tidak dihias dengan ukiran mirip lazimnya Dwarapala di candi lain. Ia hanya setinggi perut orang dewasa.

Di pelataran candi juga berdiri 2 patung yg sungguh menarik perhatian. Bukan hanya karena tinggi serta akbar tubuhnya melampaui insan. Melainkan lantaran keduanya ialah Garuda, makhluk 1/2 insan separuh burung, yg sedang mengangkat tangan dengan sayap terkembang. Keduanya sama-sama kehilangan kepala. Masing-masing menunjukkanangka tahun 1363 serta 1364 Saka (1441-1442 Masehi).

Perbedaannya terlihat kepada kaki: andai tutur satu Garuda berkaki insan, lainnya berkaki burung; lengkap dengan cakar serta tajinya. Di belakang satu dari patung tertulis prasasti. Isinya, antara lain tentang seorang raja yg gugur mempertahankan kerajaan dalam sebuah pertempuran. Juga kalimat tentang seorang anak yg terlambat membantu ayahnya dalam perang itu.

Jauh di samping kiri pelataran candi primer berjajar aneka pahatan batu. Antara lain arca satwa gajah, babi hutan, serta hewan yg tidak terperinci bentuknya. Susunan relief selanjutnya memuat kisah primer candi Sukuh. Gambaran ilustrasinya menyerupai wayang beber. Satu bagian memaparkan satu babak kisah. Terdiri atas lima panel, setiap panel relief menceritakan satu episode tersendiri.

Relief-relief ini berpusat kepada saga Sudamala alias Sadewa, bungsu dari lima bersaudara Pandawa, sinkron dengan kitab Kidung Sudamala. Secara etimologis, ''suda'' berarti berkurang serta ''tragedi'' memiliki padanan tutur dengan segala hal tidak baik mirip dosa, kutukan, atau tragedi.

Panel relief pertama menampakan 3 orang yg bersimpuh kepada satu sosok yg berdiri dengan latar belakang sebuah pohon. Diyakini, beliau Sadewa serta pengiringnya yg menghadap Dewi Durga. Bagian kedua terdapat satu sosok siap menebaskan pedangnya ke arah insan yg terikat kepada pohon.

Durga minta Sadewa buat meruwat dirinya agar beralih rupa ke wujud semula danbisa pulang ke kahyangan. Ketika Sadewa menolak, Durga mengikat serta mengancamnya dengan pedang. Relief yg mendeskripsikan potongan tubuh mirip kepala serta tangan menampakan lokasi Setra Gandamayit, tempat pembuangan para dewa yg melanggar anggaran.

Dalam Kidung Sudamala, mirip diceritakan Sarjono, Durga dikutuk jadi super besar oleh suaminya, yakni Batara Puru, serta dibuang karena berselingkuh. Ia selingkuh bukan tanpa karena: ketika Batara Puru sakit serta Durga wajib mencari obat, pemilik obat itu ialah seorang penggembala yg mau menyampaikan obat andai tutur Durga putusan bulat berafiliasi dengannya. ''Artinya dalam hidup selalu terdapat problem dengan segala konsekuensinya.

Relief ketiga serta keempat menampakan lima wujud insan dengan latar belakang istana serta pepohonan. Gambaran itu ditafsirkan menjadi petualangan lain Sadewa menyembuhkan pertapa buta, Tambapetra. Lantaran sukses, Sadewa dinikahkan dengan putri pertapa, Ni Padapa.

Panel relief kelima tidak berafiliasi pribadi dengan Sadewa. Tampak 2 sosok berbadan akbar tengah berjibaku. Salah satunya ialah Bima, saudara tertua Sadewa, tengah melawan super besar; mengangkatnya dengan tangan kiri serta siap menghunjamkan kuku Pancanaka.

Dari pemaknaan banyak sekali patung serta relief, mulai Sudamala, Bima, hingga Garuda, Candi Sukuh menjadi blog yg kaya akan falsafah tentang upaya insan mensucikan diri dengan menghilangkan hal-hal tidak baik. Dalam masyarakat Jawa, langkah ini dikenal menjadi tradisi ruwatan. Dengan demikian, Candi Sukuh dipercaya menjadi blog suci buat peruwatan.

Untuk umat Hindu, Candi Sukuh masih diifungsikan kala hari-hari raya mirip Nyepi, Galungan, serta Saraswati. Sejumlah masyarakat Jawa juga menggelar ritual tiap malam Selasa Kliwon serta Jumat Kliwon. Sisa-sisa ritual, berupa bunga serta dupa, masih bisa ditemui di beberapa sudut Sukuh.

Sukuh dianggap menjadi candi pamungkas. Pendiriannya ketika Majapahit diperintah Suhita, 1429-1446 Masehi. Sukuh saksi terakhir kejayaan kerajaan Hindu terbesar ini karena sehabis Sukuh tidak ditemukan lagi candi kepada masa-masa jatuhnya Majapahit di abad XV.

Pola kompleks Sukuh ''menyalahi'' gaya arsitektur Hindu sinkron kitab Wastu Widya. Buku ini berisi kaidah candi Hindu mirip tampak kepada candi-candi di Jawa Tengah. Sesuai literatur ini candi biasanya berbentuk bujur sangkar dengan sentra, menjadi tempat paling suci, persis berada di tengah.

Sukuh tidak sinkron karena beliau satu-satunya candi di Jawa dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat. Bangunannya juga terbagi 2 oleh jalan setapak batu. Ciri-karakteristik tersebut dimiliki bangunan suci masa megalitikum. Pengaruh budaya megalitikum ditengarai timbul pulang lantaran budaya Hindu mulai surut.

Sukuh dilaporkan pertama kali ditemukan oleh Residen Surakarta Johnson, 1815. Di masa kekuasaan Inggris ini, Ia ditugaskan Gubernur Jenderal Thomas Stanford Raffles mengumpulkan bahan buat kitab The History of Java.

Setelah kekuasaan pulang ke Belanda, sejumlah arkeolog negara itu meneliti Sukuh. Antara lain, Van der Vlis kepada 1842, Hoepermen serta Verbeek (1889), Knebel (1910), serta W.F. Stutterheim (1930). Peneliti yg dianggap terakhir ini menawarkan atensi kepada bentuk Candi Sukuh yg sederhana serta tidak sinkron dari candi Hindu lain.

Menurut beliau, terdapat 3 alasan. Pertama, pemahat Sukuh kemungkinan bukan pakar dari istana, bahkan mungkin bukan ''arsitek'' batu, melainkan tukang kayu. Kedua, candi dirancang tergesa-gesa. Ketiga, surutnya kekuasaan Majapahit menjadi akibatnya tidak memungkinkan menciptakan candi akbar serta megah.
Candi tidak didirikan oleh kaum kerajaan, melainkan oleh para pelarian dari Majapahit yg menghindari kejaran prajurit Demak. Mereka pun tinggal di wilayah pinggiran kekuasaan Majapahit. Budaya Hindu mereka bertemu serta mengalami akulturasi denga agama rakyat setempat; yg masih menyembah roh leluhur.

Ada satu pengertian lain mengenai hipotesis itu. Sukuh berasal dari ungkapan Jawa ''kesusu waton bakuh''. Artinya, tergesa-gesa sumber kuat. Dari segi fisik bangunan memang kuat. Tapi filosofinya dalam syarat tergesa-gesa atau terjepit, insan akan selalu pulang kepada Ilahi serta jatidirinya demi menguatkan jiwa.

Candi Sukuh pertama kali direnovasi pertama kepada 1917. Pemugaran akbar-besaran terakhir kepada 1982. Beberapa bahan asli dari batu andesit dari material Lawu yg dulu gunung aktif –diperkuat dengan batu kali. Beberapa tahun lalu, gapura primer juga sempat diperkuat dengan semen karena posisinya semakin miring.

Kompleks purbakala seluas lima.500 meter persegi ini ditengarai masih berafiliasi dengan blog lain di sekitarnya. Misalnya dengan Candi Cetho serta blog Planggatan yg berjarak 2 kilometer dari Sukuh. Sayangnya, pemugaran Cetho kepada 1970-an jauh tidak sinkron dari bentuk semula, menjadi akibatnya sulit dilacak kaitannya. Sementara itu, Planggatan belum intensif dieksplorasi. Tak jauh berselang, ditemukan arca berwujud super besar serta artefak batu masing-masing berjarak satu kilometer serta 3 kilometer dari Sukuh.

Candi Sukuh berada di lereng barat Gunung Lawu. Tepatnya di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Berdiri di atas ngarai, 910 meter dari permukaan bahari, Sukuh terdapat di tengah permukiman warga, di antara hutan, sawah, serta ladang.

Untuk menuju Sukuh, cara paling nyaman dengan kendaraan pribadi. Aika tidak, dari Terminal Tirtonadi, Solo, sampeyan bisa menaiki bus ekonomi reyot arah Karangpandan, Karanganyar. Setelah menempuh jarak sekira 30 kilometer serta tiba di terminal Karangpandan, disambung dengan bus mini yg baru jalan ketika penumpang penuh sejauh 12 kilometer.

Sampai di pertigaan Nglorok, sampeyan wajib berganti lagi dengan ojek. Perjalanan menanjak sejauh 3 kilometer. Kondisi medan yg sulit memang berisiko buat bus akbar. Bus akbar mentok di terminal Karangpandan. Rombongan wisata dengan bus biasanya wajib dipecah ke dalam bus mini atau ojek di Terminal Karangpandan buat hingga ke Candi Sukuh. Nah, bagaimana, penasaran? Monggo mengunjunginya.
Nuwun.

Bumi Para Nata, 7117

Leave a Reply