web analytics
Blangkon Yogyakarta dan Surakarta: Sejarah, Bentuk, dan Makna Filosofis dalam Budaya Jawa - DUNIA KERIS

Pendahuluan

Blangkon merupakan salah satu elemen penting dalam busana tradisional Jawa yang memiliki nilai historis, sosial, dan filosofis yang mendalam. Sebagai penutup kepala bagi laki-laki, blangkon tidak hanya berfungsi secara praktis sebagai pelindung, tetapi juga menjadi simbol identitas dan martabat dalam struktur masyarakat Jawa.

Dalam perkembangannya, blangkon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya keraton, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta, yang masing-masing memiliki ciri khas bentuk dan makna tersendiri.

Asal-usul Blangkon dan Iket sebagai Bentuk Awal

Untuk memahami blangkon, perlu ditelusuri terlebih dahulu bentuk awalnya, yaitu iket atau kain penutup kepala yang digunakan oleh masyarakat Jawa sejak masa lampau. Meskipun tidak terdapat catatan sejarah yang pasti mengenai kapan iket mulai digunakan, keberadaannya telah lama dikenal dalam tradisi dan kisah lisan.

Salah satu referensi yang sering dikaitkan adalah kisah Aji Saka, yang menggambarkan penggunaan kain penutup kepala sebagai simbol kekuatan dan kekuasaan. Kisah tersebut menunjukkan bahwa penutup kepala telah memiliki makna simbolik sejak masa awal perkembangan budaya Jawa.

Aji Saka melawan Prabu Dewata Cengkar (sumber: sabilulhuda.org)

Selain itu, penggunaan iket juga dipengaruhi oleh interaksi budaya dengan dunia luar, khususnya melalui masuknya pengaruh Hindu dan Islam. Kehadiran pedagang dari Gujarat yang mengenakan sorban diduga turut memberikan inspirasi terhadap bentuk penutup kepala di Jawa.

Seiring waktu, kebutuhan akan bentuk penutup kepala yang lebih praktis dan efisien mendorong lahirnya blangkon sebagai bentuk yang lebih terstruktur dibandingkan iket.

Blangkon dalam Struktur Sosial Jawa

 

Sri Sultan Hamengku Buwono X (sumber: keratonjogja)

Dalam masyarakat Jawa tradisional, blangkon memiliki dimensi sosial yang kuat. Penggunaannya tidak hanya berkaitan dengan fungsi estetika, tetapi juga menjadi penanda identitas dan kedudukan sosial.

Di lingkungan keraton, blangkon digunakan sebagai bagian dari tata busana resmi kaum bangsawan. Sementara itu, masyarakat umum lebih banyak menggunakan iket dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan ini menunjukkan adanya stratifikasi sosial yang tercermin melalui busana.

Blangkon kemudian berkembang menjadi simbol kerapian, kehormatan, serta kesadaran akan posisi sosial dalam masyarakat.

 

 

Makna Filosofis Penutup Kepala

Dalam pandangan budaya Jawa, kepala dipandang sebagai bagian tubuh yang paling utama dan terhormat. Oleh karena itu, penutup kepala memiliki makna simbolik sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

Pada masa lalu, laki-laki Jawa umumnya memanjangkan rambut dan mengikatnya sebelum mengenakan penutup kepala. Ikatan tersebut tidak hanya berfungsi praktis, tetapi juga melambangkan pengendalian diri. Rambut yang terurai dianggap sebagai simbol luapan emosi atau kondisi yang tidak terkendali.

Dengan demikian, penggunaan iket maupun blangkon mencerminkan nilai-nilai penting dalam budaya Jawa, seperti pengendalian diri, ketertiban, dan kesadaran akan martabat pribadi.

Perkembangan Bentuk Blangkon

Secara umum, blangkon terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu mondolan dan trepes. Perbedaan ini terutama terlihat pada bagian belakang blangkon.

Blangkon mondolan memiliki tonjolan di bagian belakang yang berasal dari kebiasaan menggulung rambut. Bentuk ini kemudian menjadi ciri khas yang dipertahankan, bahkan setelah kebiasaan memanjangkan rambut mulai ditinggalkan.

Sementara itu, blangkon trepes memiliki bentuk yang lebih rata tanpa tonjolan di bagian belakang, mencerminkan perubahan gaya hidup dan penyesuaian terhadap kondisi sosial yang berkembang.

Pengaruh Sejarah terhadap Perbedaan Yogyakarta dan Surakarta

Perbedaan bentuk blangkon antara Yogyakarta dan Surakarta tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah politik Jawa, khususnya setelah terjadinya Perjanjian Giyanti yang membagi Kesultanan Mataram menjadi dua kekuasaan.

Di Yogyakarta, tradisi memanjangkan rambut dan menggulungnya masih dipertahankan lebih lama. Hal ini menyebabkan bentuk mondolan tetap relevan dan kemudian dijadikan ciri khas blangkon Yogyakarta, meskipun tonjolan tersebut akhirnya dijahit secara permanen sebagai bagian dari bentuk blangkon.

Sebaliknya, di Surakarta, pengaruh budaya Eropa yang lebih kuat, terutama akibat kedekatan dengan pemerintah kolonial Belanda, mendorong perubahan gaya hidup. Laki-laki mulai memotong rambut pendek, sehingga bentuk blangkon yang berkembang adalah trepes yang lebih sederhana dan tanpa tonjolan.

Perbedaan ini menunjukkan bagaimana faktor politik dan interaksi budaya turut membentuk identitas visual dalam tradisi busana Jawa.

Perbedaan blangkon trepes dan mondolan (sumber: era.id)

Penutup

Blangkon bukan sekadar pelengkap busana tradisional, tetapi merupakan representasi dari nilai, sejarah, dan identitas masyarakat Jawa. Dari iket sebagai bentuk awal hingga berkembang menjadi blangkon dengan berbagai variasi, penutup kepala ini mencerminkan perjalanan panjang budaya Jawa yang dipengaruhi oleh filosofi hidup, struktur sosial, dan dinamika sejarah.

Perbedaan antara blangkon Yogyakarta dan Surakarta menjadi bukti bahwa tradisi tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Di tengah modernitas, blangkon tetap memiliki relevansi sebagai simbol jati diri dan pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya.

Leave a Reply