Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Jamasan atau dikenal sebagai juga Siraman Pusaka merupakan suatu kegiatan tradisi memandikan atau mencuci serta mewarangi pusaka khususnya tosan aji yaitu keris serta tombak yg dilakukan setahun sekali. Di Jawa umumnya kegiatan ini diselenggarakan pada setiap bulan Sura (berdasarkan kalender jawa) atau Muharam (berdasarkan kalender Hijriyah), di beberapa wilayah lain tradisi ini terdapat juga yg dilakukan pada bulan Maulud (berdasarkan kalender Hijriyah).

Dalam mayapada tosan aji bahwasanya pada setiap prosesi jamasan atau siraman pusaka tidak selalu bilah pusaka harus dicuci kemudian diwarangi, tergantung kondisi pusaka itu sendiri. Aika kondisi pusaka masih bagus, warangan masih bagus maka pusaka tersebut tidak perlu dicuci serta diwarangi namun cukup diselaraskan kembali energinya dengan alam semesta.

Mengapa pusaka-pusaka tersebut tidak perlu dicuci serta diwarangi seandainya kondisinya masih bagus? Karena dengan seringnya pusaka dicuci serta diwarangi maka bilah pusaka akan semakin cepat aus. Karena larutan buat mencuci atau memandikan keris memiliki sifat yg asam. Air jeruk, air kelapa yg sudah basi, buah pace (mengkudu), ataupun sabun colek yg umumnya digunakan sebagai bahan buat mencuci keris sampai nampak warna bilah pusaka sesungguhnya (proses ini dikenal sebagai mutih, atau memutih) dapat membuat bilah pusaka terkikis. Kecuali seandainya memang bilah pusaka sudah sangat kotor, berkarat, serta memang layak buat dicuci atau dimandikan, maka proses pencucian serta pewarangan sangat dianjurkan. Bilah pusaka yg terawat dengan baik cukup dicuci serta diwarangi setidaknya tiga atau empat tahun sekali.

Pada intinya proses penjamasan serta penyinergian pusaka dengan alam semesta ini dilakukan dengan asa setelah proses tersebut dilakukan maka yg akan terjadi akhir yg diinginkan ialah pusaka-pusaka itu berfungsi normal kembali, ibarat manusia yg selesai mandi kemudian mengenakan wewangian, baju yg bersih serta sebagainya maka dampak psikologis yg dirasakan ialah sebuah kesegaran serta energi yg positif.

Ada beberapa tahapan lelaku yg harus dijalani sebelum seorang Empu yg juga dapat dilakukan sang siapapun supaya memiliki jiwa spiritual yg kuat yaitu :

Dharma Brata, yaitu lelaku yg mengutamakan asas manfaat diri buat orang lain, antara lain ialah mengutamakan kenyamanan orang disekelilingnya.
Dana Brata, yaitu kerelaan serta keikhlasan menyisihkan apa yg kita miliki buat diberikan kepada mereka yg berhak menerimanya.
Tarak Brata, yaitu lelaku memilih serta memilah kuliner yg kita konsumsi sehari-hari. Selain itu juga janganlah kita mengejek atau menyampaikan komentar yg bersifat negatif terhadap seluruh kuliner yg kita konsumsi.
Lelana Brata, yaitu lelaku silaturahmi atau menyambung persaudaraan serta simpel memaafkan kesalahan yg dilakukan sang orang lain.
Tapa Brata, yaitu lelaku yg bersifat eksklusif antara manusia dengan Sang Pencipta berdasarkan dengan keyakinan yg dianutnya.

Selanjutnya sedikit saya cuplikkan proses pembuatan keris yg menggunakan teknik tempa lipat. Segala benda yg tipis akan menjadi lebih kuat bila benda itu didesain berlapis-lapis. Teori ini sudah dikenal sang nenek moyang kita sejak berabad-abad yg lampau. Beberapa literatur menyatakan bahwa keris tertua didesain di Pulau Jawa, diduga kurang lebih abad ke-6 atau ke-7. Keris yg diciptakan pada masa-masa tersebut biasanya dikenal sebagai sebagai keris Buda. Bentuk keris Buda umumnya masih sederhana, namun bahan atau material keris tergolong pilihan. Teknik pembuatannya keris pada masa itu juga nisbi tidak jauh berbeda dengan masa kini.

Sebelum keris didesain, terlebih dahulu dilakukan upacara selamatan yg dihadiri beberapa orang yaitu si pemesan, empu, panjak (pembantu empu) serta beberapa tetangga. Tujuan selamatan ini tidak lain ialah permohonan doa beserta kepada Tuhan supaya dalam proses pengerjaan keris tersebut semuanya mendapat keselamatan, kelancaran serta keberkahan serta terhindar dari segala macam bentuk peristiwa.

Salah satu doa yg diucapkan empu saat proses selamatan ialah :

Bismillahir Rakhmannir rakhim
Assalamualaikum, waalaikum salam
Asale wesi saka irenge mripat
Asale waja saka putihe mripat
Asale pamor saka kuninge mripat
Asale sepuh saka banyune mripat
Pangerane braja ngadeg ana satengahing mripat
Kang mengku sadaya wesi aji
Iya Guru sejati
Keesokan harinya barulah dimulai proses penempaan pertama, yaitu pada tahap masuh besi, tempaan pertama ini dilakukan sendiri sang sang empu. Pada setiap tahapan-tahapan pembuatan keris seorang empu biasanya membacakan doa yg bhineka, mulai doa saat penempaan pertama, pembuatan kodokan sampai tahapan menyepuh. Adapun doa yg dibacakan juga disesuaikan dengan maksud serta tujuan keris itu didesain, apakah keris itu nantinya buat perang atau keperluan yg lainnya, disini dapat disimpulkan bahwa selama proses pembuatan keris itu, sang empu selalu mengiringinya dengan pembacaan doa baik dibacakan dengan lesan atau hanya di dalam hati.

Keris yg baik harus didesain serta ditempa dari tiga macam logam, minimal dua yaitu besi, baja serta bahan pamor. Proses pembuatannya juga harus ditempa lipat, bukan dicor atau dari guntingan seng serta sebagainya.

Bentuk pamor berdasar kedudukannya pada bilah keris terdapat dua macam, yaitu pamor mlumah serta pamor miring. Disebut pamor mlumah karena lapisan-lapiasan bahan pamor sejajar dengan permukaan bilah keris. Ragam atau corak pamor ini antara lain ialah pamor wos wutah, ngulit semangka, udan mas, uler lulut serta sumsum buron. Biasanya keris ini memiliki tuah buat memperlancar rejeki serta pengasihan. Sedangkan pamor miring ialah pamor yg kedudukannya melintang atau tegak lurus dengan permukaan bilah keris. Ragam atau corak pamor miring ini antara lain ialah pamor adeg, blarak ngirid, ron genduru, ujung gunung serta raja abala raja. Biasanya keris berpamor miring ini kegunanaanya buat kesaktian serta kewibawaan.

Proses penjamasan serta sidhikara keris pusaka, dapat dilakukan sang orang yg pakar serta profesional ataupun dilakukan sendiri. Biasanya pada proses penjamasan disertai dengan ubo rampe (kelengkapan) baik itu beberapa jenis bunga, kelapa, maupun yg lainnya. Ubo rampe itu memiliki makna filosofi yg sangat mendalam serta diperlukan pemilik pusaka dapat memaknainya dalam kehidupan sehari-hari.

Bertelekan pada narasi di atas, dapat kita analogikan, andaikata keris itu saya samakan dengan sebuah mesin mobil, dapat jadi prosesi penjamasan serta sidhikara itu sama halnya seandainya kita melakukan tune up atau perawatan mesin mobil sebagai akibatnya setelah dirawat serta diperbaiki, saat dikendarai mobil terasa nyaman serta semuanya berfungsi normal kembali. Sekian dulu, semoga bermanfaat. Nuwun.

Leave a Reply