Prosesi pemakaman Sultan Hamengku Buwono VIII. 1939

Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Ternyata orang yg baik itu artinya orang yg ingat akan mati, karena akan mengisi hidup ini lebih berarti & berharga. Kita semua berhutang kematian. Tanpa terkecuali. Kematian boleh dikata akhir tujuan bersama, namun setiap orang mempunyai jalan yg berbeda hingga hingga ke tujuan tersebut.

Kematian di dalam kebudayaan apa pun hampir selalu disikapi dengan ritualisasi. Entah apa pun wujud ritualisasi itu. Ada berbagai alasan mengapa kematian disikapi dengan ritualisasi. Dalam berbagai kebudayaan kematian juga dipercaya bukan sebagai bentuk akhir atau titik lenyap dari kehidupan.
Pada kesempatan kali ini saya akan bagikan ritus jalannya Upacara Kematian Raja & bangsawan tradisi Mataram.

Dari literasi yg saya dapatkan, setidaknya khusus upacara kematian dalam tradisi keraton yg terdapat di Jawa secara umum terdapat 5 jenis gatra ritual, yakni :

Tata cara Majapahit atau Pra-Islam
Tata cara Demak & Pajang
Tata cara perwalian atau wali Allah di Jawa
Tata cara Kalang Sepuh
Tata cara Mataram selingkar keturunannya

Tata cara Majapahit menyangkut sesaji yg ditujukan pada orang yg sakit hingga merawat jenazah sebelum dikubur. Hanya pada rapikan cara perawatan jenazah diberi balsem & ditunggu samapi 100 atau 1000 hari. Jika utuh & awet, mayat itu dibusanani dengan busana kebesaran kerajaan. Namun seandainya rusak, maka jenazah itu dikafani. Uborampe atau sesaji orang yg sakit hingga perawatan jenazah menganut upacara kuno dengan memanggil dukun , pini sepuh & ulam sebelum dibacakan matra-mantra pelepasan jenazah.

Tata cara Demak & Pajang menurut rapikan cara di sini dalam melakukan perwatan jenazah dengan rapikan cara keislaman mulai dari mensholatkan hingga penguburan jenazah di lingkungan kerajaan Islam di Jawa.

Tata cara perwalian atau Wali Allah berbeda dengan rapikan cara di saat Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan kudus, & Sunan Kalijaga. Di masa ini mengguanakan rapikan cara rakit dalam contoh tarekat Syeh Abdul Qadir Jailani, Nasabariyah, Naqsabandiyah & Safiiyah. Sunan Kalijaga tidak mengenal tahlilan akan tetapi disebut ageman yaitu dikuburan jenazah atau pesan-pesan almarhum digubah.

Tata cara Mataram artinya membuat peubahan baru & tradisi kuno Pra-Islam dalam tatanan kultur Jawa. Pembusanaan jenazah raja & putra dengan busana kebesaran.

Dalam rapikan cara Mataram upacara perawatan jenazah dipimpin oleh raja atau pangeran tertua atas nama raja. Juga uborampenya menyesuaikan bentuk yg terdapat. Di dalam pranata jiwa kalau si sakit cukup usang atau tidak terdapat harapan buat sembuh si sakit dibawa ke Imogiri diruang Pajimatan yg kemungkinan akan meninggal. Orang yg merawat artinya ulama atas nama raja. Selama raja berkuasa tidak boleh mengunjungi ke Imogiri.

Pelaksanaan upacara kematian ini terdapat berbagai perlengkapan kegiatan yg dalam garis besarnya :

Perawatan jenazah (uborampe panguptining layon)
Pemakaman jenazah (uborampe panguburing layon)

Perawatan jenazah dimulai sejak seseorang sungguh meninggal dunia. Kerabat & orang lain yg kebetulan menyaksikan saat meninggalnya segera mengatur posisi tubuh mayat, (menyilangkan tangan jenazah ke dada, tangan kanan diletakkan diatas tangan kiri, kelopak mata dirapatkan, dagu ditekan supaya lisan terkatup, kedua kaki diluruskan sejajar serta dihadapkan ke arah kiblat.

Dibujurkan ke utara (mujur ngalor) menyerong ke barat sedikit (ngulon sithik) ditutup rapat diluruskan dengan kaki memakai jarik, serta dipasang sebuah pelita & tempat pembakaran kemenyan dekat pembaringan hal ini dilakukan supaya tidak terlanjur kaku. Saatnya buat dimandikan, anak saudara menunggu supaya tidak terdapat ganguan ad interim itu kegiatan lainnya mulai dilaksanakan, misalnya menyebar berita duka, penggalian kubur, perlengkapan memandikan jenazah & lain-lainnya.

Mengenai lokasi penggalian tergantung pada saat meninggalnya sedang tentang lokasi penggalian liang lahat biasanya tidak disebelah atas (utara / makam yg lebih tua atau leluhur. Bila pantangan in dilanggar akan menimbulkan hal-hal yg kurang baik terutama si roh mati.

Uborampe yg bekerjasama dengan upacara misalnya Bangsal Sri Manganti digunakan buat membaringkan jenazah & didekatnya dihidupkan pedupaan, blencong, air kembang seramah, hidang-hidangan yg merupakan kombinasi dari sumber-sumber khasanah flora & hewan Jawa yg berbentuk bahan pajangan & bahan pangan.

Selama disemayamkan dibunyikan gending mutur yaitu gending-gending yg mengambarakan tangisan hati & menggunakan gamelan menggang.

Upacara Memadikan Jenazah

Bagi golongan bangsawan, tradisi tentang perawatan jenazah mulai dari meninggal, memandikan, membungkus, menyembahyangkan hingga pemakamannya mempunyai kekhususan tersendiri. Antara jenazah seoarang raja dalam menyemayamkan dengan jenazah putra mahkota, permaisuri, permasuri putera raja, selir-selir & pelara-pelara. Untuk raja disemanyamkan di bangsal Prabasuyata sebelum dimandikan.

Perbedaan Perawatan Dengan Selain Raja artinya :

Apabila yg meninggal seseorang Permaisuri atau Putra Mahkota, maka upacara memandikan dari menghias jenazah dilakukan di Tratan (serambi) Prabasuyata, sesudah selesai jenazah disemayamkan di bangsal misalnya halnya seseorang raja. Sedangkan buat para selir ( pelara-pelara) & putera yg belum kawin, upacara siraman & membusanani dilakukan di bangsal pengapit, selanjutnya jenazah disemayamkan dibangsal Manis hingga pada saat pemberangkatan pemakamannya. Bagi seseorang yg meninggal sebelum kawin terdapat syarat tamabahan yg harus dilengkapi yaitu batang pohon pisang & gagar mayang yg dibuang di peremapatan jalan.

Bila seseorang raja mangkat (surut dalem) karena usia lanjut bukan karena penyakit, jenazah dipangku oleh anak & cucu pria, bila yg mangkat permaisuri, maka anak & cucu puterilah yg memangku.

Tempat buat menyirami bisanya ditutupi dengan kain putih sekelilingnya atau kain biasa yg baik, sedang penutup permukaan digunakan kampuh atau kain panjang. Bila yg meninggal seseorang raja maka upacara nitaman dipimpin putera tertua yg hendak menggantikan kedudukannya. Perlengkapan Sirangan ini meliputi :

Air tawar (air sumur bersih) ditempatkan dalam tempayan
Air landha merang buat keramas (cuci rambut)
Air asam (air tawar dicampur asam lumat) juga buat keramas.
Air asin (air tawar campur garam)
Air wangi (air tawar dicampur wewangian atau minyak cendana)
Merang (tangkai padi kering yg telah diptong-potng) buat membersihakn kuku.
Kain putih buat penutup.

Agar sungguh bersih tubuh jenazah boleh dimiringkan kekanan atau kekiri. Menjelang selesai siraman, jenazah didudukan buat disiram tiga kali dari arah kepala.

Upacara Membungkus Jenazah

Setelah jenazah dimandikan dengan absolut kemudian diangkat ketempat yg telah ditentukan & disitulah jenazah pada hakekatnya sama dengan rakyat biasa, hanya saja bahan-bahan yg digunakan biasanya lebih terpilih. Mengenai jumlah kain kafan harus ganjil, rangkap tiga, lima, atau tujuh. Kemudian kapas-kapas yg diberi minyak cendana buat menutup bagian badan yg lemah & lekas membusuk.

Sementara itu peti jenazah telah disiapkan yg antara lain diberi alas tikar, bantal dengan kain yg sama atau putih berisikan daun kemuning & daun pandan (memliki khasiat atau menghilangkan bau busuk). Setelah itu jenazah yg telah selesai pembukusannya, dimasukan dalam peti dengan posisi agak miring kekanan atau arah kiblat ditopang dengan tujuh bulatan tanah atau gelu, sebelum ditutup pelayat diberi kesempatan buat melihat & mendoakan, tetapi berurutan. Setelah peti ditutup, lalu diletekakan diatas balai-balai membujur ke arah utara. Rangkaian perhiasan berupa bunga-bunga ini dibenahi, dimaksudkan selain menghormati si mayat juga buat menghilangkan bau busuk.

Menshalatkan Jenazah

Menshalatkan jenazah di tiga tempat yaitu :

Masjid di Panepen buat menyembahyangkan jenazah raja yg dilakukan oleh para putera-puteri & cucu raja dipimpin oleh ulama.
Pembacaan doa-doa di masjid yg dipimpin oleh Kyai Penghulu.
Upacara di makam yg dilakukan oleh pengageng juru kunci.

Demikan halnya dalam menshlatkan jenazah di kalangan bangsawan sama sebagaimana menshalati jenazah pada umumnya. Khusus buat bangsawan, upacara ini dilaksanakan oleh abdi dalem kraton Suronoto, dipimpin oleh Kyai Penghulu Kraton atau Pengulan. Sementara itu terdapat petugas yg memasang perdupaan didekat kaki jenazah & secara bergantian istri, anak-anak serta kerabat dekat memasukan kemenyan atau ratus-ratus ke dalam perdupaan tersebut supaya terus mengeluarakan asap harum.

Upacara Pemakaman

Uborampe yg bekerjasama dengan upacara pemberangkatan jenazah diantaranya yaitu kentongan masjid, kendi yg yg terbuat dari tanah, sapu lidi, beras kuning, & uang recehan serta kembang setaman. Sedangkan upacara bubak dalan yaitu pemukulan kentongan, penyebaran beras kuning, air kendi dijalankan oleh para Kyai atau perempuan uzur atau perempuan yg sudah melewati masa menstruasi. Semua ini buat mengawali pemberangkatan ke Imogiri (perlengkapan yg bersifat cucuking lampah).

Komposisi & Konfigurasi Peserta Upacara

Apaila seseorang Raja yg meninggal dunia maka pimpinan upacara berada di tangan Pepatia Dalem Danurejo sebagai Perdana Mentri Kesultanan atau Wasir yg mengepalai seluruh unit pemakam hingga seratus harinya. Sesepuh atau pimpinan upacara tidak mengikuti ke makam.

Apabila yg meninggal artinya seseorang Permaisuri, Putra Mahkota atau Adipati Anom maka sultan menunjuk tim khusus buat menyelenggarakan upacara pelepasan jemazah.

Dalam upacara pelepasan jenazah raja tidak terdapat master perayaan atau protocol cuma yg biasa dilakukan pengaturan secara lisan. Kemudian dalam upacara pemberangkatan & tuguran (berjaga semalam suntuk) dipimpin oleh Penghulu Agung kerajaan yg didampingi oleh Suranata, putihan & abdi dalem pemetaan serta sepenuhnya dibantu oleh abdi dalem petilasan atau pengulon.

Sementara perabot & penghulu dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

Penasehat ritual keagamaan menjadi tugas Penghulu Agung
Penghulu masjid kraton yg berada di Mlangi (masjid keratin atau patok negoro)
Penghulu kraton yg berada di Ploso.
Penghulu masjid kraton yg berada di Wonokromo

Seluruh koordinasi masjid baik dalam maupun luar lingkup keraton mendapat pembiyaan dari keraton. Sedangkan penghulu bertanggungjawab pada masing-masing masjid & juga bertanggungjawab kepada sultan. Perlekapan pemakaman jenazah biasanya menggunakan kereta kerajaan atau kereta jenazah yg biasa digunakan oleh para raja di kawasan setempat.

Kalangan bangsawan kraton Yogyakarta mempunyai tiga tempat pemakaman yaitu :

Makam Imogiri Bantul
Makam Hastorenggo
Girigondo di Kotagede

Khusus buat pemakaman raja atau sultan ditempatkan di Imogiri. Upacara pemakaman bagi kalangan bangsawan memang berbeda dengan upacara pemakaman rakyat biasa tetapi inti upacaranya sama, misalnya dalam hal upacara Mbrobosan, cara menurunkan peti jenazah posisi dalam liang lahat & pembacaan doa bagi jenazah. Apabila yg mengangkat raja atau sultan, menjelang pemakaman para anggota keluarga & segenap punggawa abdi dalem berkumpul di tempat-tempat yg tidak sama.

Para putra putri berkumpul di dalam (istilah ruang dalam). Prajurit pesisiran yaitu pegawai kraton, pegawai kesultanan berkumpul di pintu gerbang pintu mlati. Sedang para abdi dalem ponakawan & perintah luhur berada di halaman kraton. Selanjutnya abdi dalem lainnya yaitu abdi dalem penghulu siap di bangsal Sri Manganti. Abdi dalem jawi berada di Bangsal Ponconiti. Setelah tiba saatnya diberangkatkan, biasanya antara pukul 10.00 wib, jenazah segera diangkat keluar istana lewat gerbang istana. Peti diangkat oleh putra putri, cucu, & para sentana (sanak keluarga) dengan kontribusi para prajurit. Sebelum keluar dari pintu gerbang selatan sejenak dihalaman kraton, diadakan sumurup (Brobosan).

Peti dibujurkan ke arah timur, selanjutnya putra putri & cucu-cucu mengusung dibawah peti tiga kali. Upacara in memberi pengertian kepada putra-putri, cucu-cucu yg ditinggal pada akhirnya akan dipanggil Tuhan juga. Sesudah selesai, jenazah dipikul & dipanyungi menuju kereta. Payung dihiasi dengan bunga melati atau hiasan lainnya. Demikian juga kereta, dihiasi dengan untaian melati atau ronce. Kereta jenazah yg biasanya ditarik dengan delapan ekor kuda & melewati kawasan pedesaan, sedangakan seandainya melewati perbukitan maka yg pernah dulu dilaksanakan kereta itu ditarik dengan lembu atau kerbau. Misalnya sewaktu meninggal Sri Paku Alam V di Girigondo sedang pengiring pakai kuda tunggang.

Ratanan laris atau petunjuk-petunjuk umumnya telah terdapat dalam buku yg ingin menaruh penghormatan permaisuri atau keturunannya. Hal – hal lain yg bekerjasama dengan upacara artinya seandainya raja atau putra masih bersatus jejaka atau perawan berada di depan iring-iringan jenazah dibawa 2 geligir gagar mayang sebagai penghormatan terhadap bangsawan yg berstatus perjaka atau perawan tersebut.

Sanak keluarga si mati kebanyakan mengenakan kostum warna hitam namun terdapat juga yg mengenakan kostum warna ungu tak jarang pelayat diberi selawat atau uang yg dibungkus dengan kain putih sebaliknya uang tadi dipergunakan buat membeli korek api atau minyak tanah.

Demikan menurut kepercayaannya selama dalam perjalanan disebarkan sawur (berisi beras kuning yaitu beras dicampur kunir & kembang telon, mawar melati & kenanga, kemudian uang & lintingan sirih). Sawur ini disebar terutama dipertigaan atau perempatan jalan yg dilalui masayarakat yg kebetulan bertemu dengan iring-iringan jenazah. Iringan-iringan ini biasanya berhenti atau turun dari kendaraannya hingga iring-irngan berlalu, topi, payung & penutup kepala lainya akan mereka tanggalkan sebagai penghormatan. Namun terdapat pula pedagang yg melemparkan uang mereka dengan harapan usaha mereka berhasil & sebagainya.

Sesampainya di pemakaman, pengurusan selanjutnya ditangani abdi dalem juru kunci. Upacara ini diawali dengan pemberian penghormatan kepada jenazah oleh para sanak keluarga maupun abdi dalem dengan cara berbaris di kanan-kiri jalan yg akan dilalui jenazah. Sebelum memasuki makam Imogiri diistirahkan buat ad interim di paseban.

Biasanya penghulu membacakan doa. Petugas formal buat mengkebumikan jenazah raja artinya pepatih dalem yg aplikasi teknisnya hingga 8 orang bertugas mengerek peti, yg biasanya dibantu 2 orang dimulut liang lahat, kedalam liang lahat seyogyanya sededeg-pengawe atau dengan tinggi orang yg berdiri sambil mengacungkan tangannya. Setelah terdapat peletakkan peti, petugas adzan dilanjutkan dengan Iqomah & membacakan takqin.

Selanjutnya cepuri atau karas (bagian dari liang kubur) ditutup dengan papan atau batu, buat kemudian mulai ditimbun dengan tanah. Para pengiring jenazah terutama kerabat dekat yaitu dengan melemparkan masing-masing dengan 3 gengam tanah ke liang kubur. Orang yg pertama kali melempar tanah mengucapkan siro kabeh pada ingsun dedeake saka ing lemah (kamu semua kami jadikan dari tanah). Pelempar kedua mengucapkan lan siro kabeh ingsun balake dadi lemah (& kamu semua kembali menjadi tanah). Pelempar ketiga mengatakan siro kabeh bakal insun wetoke soko ing lemah (kamu semua akan dikeluarkan dari tanah).

Selamatan Sesudah Pemakaman

Dalam upacara kematian yg masih dilaksankan di kalangan bangsawan khususnya upacara-upacara sesudah pemakaman biasanya disebut selametan atau wilujengan yg maksudnya buat keselamatan baik buat roh si mati supaya diterima di akhirat nanti, maupun buat keluarga yg ditinggalkannya.

Ada beberapa disparitas antara selametan antara kaum bangsawan dengan rakyat biasa yg sesungguhnya tidak prinsip. Seperti dalam masyarakat biasa, wadah atau tempat makanan yg digunakan artinya berasal dari daun pisang atau takir pisang, ad interim pada kaum bangsawan menggunakan kertas atau kain putih, sebagai akibatnya tampak lagi bahwa lebih glamor dalam menghidangkan makanan & sesajian. Ada 2 macam disini yaitu sesajen wilujengan buat dihidangkan hadirin & sajen buat si roh mati.

Rangkain upacara-upacara ini umumnya meliputi :

Sur tanah (pada hari yg sama dengan pemakaman)
Nelung dino (tiga hari dari meninggalnya)
Pitung dino (tujuh hari dari meninggalnya)
Matang puluh dino (empat puluh hari dari meninggalnya)
Nyatusdino (seratus hari dari meninggalnya)
Mendak pisan ( 1 tahun dari meninggalnya)
Mendak pindho (2 tahun dari meninggalnya)
Nyewu dino ( seribu hari dari meninggalnya)

Ketetapan waktu penyelenggaraan upacara selametan selalu diperhitungkan dengan amat teliti, terutama berdasarkanpada hari, pasaran, bulan, & tahun menurut perhitungan Jawa. Dari sur tanah hingga mitung dino masih mudah menghitungnya tetapi mulai matang puluh dino atau empat puluh harinya hingga selanjutnya memerlukan perhitungan khusus, menurut kepercayaan mereka jikalau tidak tepat, maka tujuan yg ingin bisa dicapai dengan penyelenggaraan upacara selametan tersebut tidak tidak memnuhi harapan.

Adapun perincian upacara selametan tersebut artinya sebagai berikut :

Sur Tanah

Maksudnya menggusur tanah yaitu tanah yg digunakan buat memakamkan jenazah. Maknanya dengan selametan ini supaya arwah atau roh si mati mendapat jalan yg terang & tempat yg lapang.

Materi yg disajikan :
Tumpeng yaitu nasi dibentuk kerucut asahan diatas rempah lengkap dengan lauk pauk jangan adem atau sayur adem.Pecel dengan sayatan daging ayam goreng atau panggang, sambel dongseng dengan kedelai yg terkelupas.Jangan menir kerupuk & rempeyek.Satu hal yg penting dalam hal ini artinya tumpeng yg harus dibelah 2 & ditaruh dalam posisi bertolak belakang terkenal dengan saburan tumpeng pengkur atau ungkur-ungkuran.

Hal ini sebagai lambang antara si mati dengan keluarga yg ditinggalkan. Juga supaya kedua belah pihak mendapat keselamatan. Pelaksanaan sur tanah ini artinya setelah pemakaman. Boleh siang atau malam hari. Pimpinan upacara dalam hal ini artinya mudin selaku pimpinan & pemabawa doa, selain menerima bagian berkat juga menerima uang wajib sekadarnya. Sedang sesajian buat si roh mati berupa nasi sepiring utuh atau sayo sak kenong, 2 bulatan nasi golong, kembang setaman, dupa atau kemenyan, bubur merah putih & lampu seatir ditemaptkan di dalam rumah eksklusif.

Nelung Dino

Pelaksanaan di siang hari yg dihadiri tetangga & ahli waris.

Materi yg dihidangkan yaitu : takir pontang yg berisi nasi kuning atau sego punar & nasi putihdengan lauk pauk daging srundeng gambingan, kecambah, kacang pangjang, yg telah di potong-potong, irisan brambah & irisan apem. semuanya di taruh di sudi (dari daun pisang) selain itu juga nasi asahan dengan lauk pauk daging goreng, jangan menir, & sambal santan.

Pitung Dino

Pitung dino menujukkan dilaksanakan berselang tujuh hari setelah pemakaman cuma waktu siang hari & dihadiri oleh kerabat & tetangga.

materi yg dihidangakan berupa apem, ketan & kolak dalam takir serta nasi asahan dengan lauk pauk daging goreng, pindang, jerohan & krupuk. Sedang maksud & tujuan masih sama dengan telung dino. Begitu pula sesaji buat roh si mati.

Matang Puluh Dino

Matang puluh dino dilaksanakan 40 hari sesudah pemakaman, boleh siang, sore namun biasannya pada malam hari & diundang para santri, materi yg disajikan sama dengan pitung dino.

Nyatus Dino

Rangkain upacara selametan hampir sama dengan rangkain upacara selametan matang puluh dino.

Mendak Pisan

Yaitu setiap satu tahun upacara. Materi hidangan maupun ujub sama dengan matang puluh dino.

Mendak Pindho

Setiap 2 tahun semua rangkain upacara selametan juga sama dengan matang puluh dino.

Nyewu Dino

Pada umumnya upacara ini merupakan upacara terakhir yg wajib dilaksanakan dalam rangkain upacara selametan yg keseribu setelah kematian. Penyelenggaran lebih besar dari upacara selametan sebelumnya. Sedang tentang materi hidangan tetap sama misalnya rangkain upacara selametan sebelumnya dengan tambah daging kambing yg disembelih sendiri.

Sebelum disembelih kambing dimandikan dengan air kembang setaman & rambutnya dikeramas dengan air lada, & tubuhnya diselimuti dengan kain putih di kalungi dengan untaian bunga & diberi makam daun sirih makanannya. Makna yg sudah ditangkap mereka artinya sebagi pikiran kendaraan orang yg meninggal. Perlengkapan yg harus disediakan pada upacara selametan ini yaitu : tikar pandan, kaca mungil, kapas, kemenyan, 2 sisir pisang raja, gula kelapa, sebutir kelapa satu takir beras, buanga & boreh. Perlengkapan ini semua ditaruh dalam wadah & disajikan di tempat kenduri yg nantinya menjadi bagian para santri kecuali para santri itu menerima berkat. Nuwun.

Leave a Reply