Dunia Keris Selamat tiba kerabat perkerisan. Apa yg pertama terlintas dalam pikiran kerabat perkerisan saat aku ajak ngobrol perihal Bali? Pulau dewata yg eksotik, manis, harmonis, serta damai. Yah, aku rasa itulah kesan pertama saat kita berbincang perihal Bali. Nah, pada kesempatan malam ini aku akan ajak panjenengan semua buat melihat Bali dari sisi lain. Melihat kebudayaan Bali dari warisan masa lalu yg tak jarang pada sebut ilmu pengiwaan.

Baik, seperti halnya pada Jawa atau pada wilayah yg lain. Bali yg hingga hari ini kita ketahui dengan masih kuat menjaga tradisinya, ternyata tradisi Bali juga menyimpan serupa ilmu santet atau tenung yg sangat digdaya. Bahkan konon, semua yg menyangkut ilmu hitam ini masih dapat kita temukan keberadaannya dalam banyak sekali lontar Bali yg berbahsa Jawa Kuno.

Seperti yg telah aku narasikan pada awal pembuka tulisan ini, ilmu hitam dalam budaya Bali dianggap ilmu pengiwaan (kiri). Nah, pertanyaannya, kenapa dianggap ilmu pengiwaan? Baik, yuk kita cari memahami serta mengenalnya lebih dekat setidaknya menjadi tambahan wawasan kita dengan.

Galibnya dalam hukum keseimbangan semesta ini, yg semua serba berpasangan. Ilmu pengiwaan dalam praktiknya, tenaga yg dikeluarjan melalui tubuh sebelah kiri. Lawan ilmu kiri ini artinya ilmu penengen (kanan) yg bertujuan menjadi keseimbangan yg tujuan utamanya buat menangkal serta memusnahkan segala hal yg ditimbulkan dari agresi ilmu kiri tadi.

Dalam riwayatnya, sejatinya ilmu pengiwaan ini dipelajari tujuan utamanya artinya buat menyakiti musuh / prajurit yg menyerang kerajaan Bali. Namun seiring berjalannya waktu, seperti ilmu hitam dalam khasanah budaya wilayah lain. Ilmu pengiwaan ini tak jarang dipergunakan buat menyakiti tentangga, famili, atau orang lain. Motifnya aku rasa klise, seperti halnya dalam prtaktik santet yg semua dipicu sakit hati yg kemudian melahirkan dendam.

Sebenarnya, penekun ilmu pengiwaan ini tidak semua bertujuan buat menyakiti orang lain, tentu terdapat yg sengaja mempelajari ilmu ini buat mengetahui kelemahannya. Seperti dalam logika berpikir rasional kita, seorang dokter harus memahami anatomi tubuh buat dapat menetukan serta tindakan penyembuhan bagi pasiennya.

Berikut dibawah ini artinya 2 ilmu pengiwaan yg diyakini hingga hari ini masih terdapat ditengan masyarakat Bali.

Cetik

Pengertian cetik intinya artinya racun, tetapi racun ini dapat dikendalikan oleh orang-orang tertentu yg menguasai ilmu ini dengan mantra-mantra tertentu. Hal ini ditimbulkan bahan-bahan yg dipergunakan buat menghasilkan cetik artinya sangat berbahaya. Seperti serpihan kuningan yg memang dalam ilmu kimia adalah bahan yg sangat berbahaya, binatang yg mempunyai racun tertentu, medang (bulu halus pada bambu) serta masih banyak lagi bahan-bahan yg lainnya. Lebih jauh perihal cetik ini pada lain kesempatan kita akan membahasnya lebih jauh.

Cara kerja cetik ialah dilakukan dengan ditaruh pada kuliner ataupun minuman orang yg hendak kita celakai. Jika orang tadi memakan atau meminum hidangan yg telah berisi cetik maka orang tadi akan merasakan sakit yg luar biasa. Tetapi sakit tadi dapat dirasakan beberapa jam kemudian, beberapa hari kemudian, ataupun beberapa bulan kemudian, Tergantung bahan serta cita-cita si pembuat cetik tadi kapan cetik itu akan bereaksi pada sasarannya.

Cetik juga dapat kita umpamakan menjadi gelombang elektomagnetik yg mempunyai sinyal-sinyal tertentu serta dapat dikendalikan. Misalkan kita menginginkan meledakan bom pada suatu tempat, kita telah menaruh bom tadi pada tempat yg kita ingin ledakan. Kita akan memakai pemicunya berupa sebuah HP yg telah kita atur sebelumnya. Tetapi suatu ketika terjadi kesalahan teknis, yg menyebabkan sinyal-sinyal tadi terganggu, serta bom yg ingin diledakan tidak akan dapat meledak.

Orang yg menjadi sasaran, dapat terhindar dari cetik jikalau ia mempunyai iman yg kuat atau pikirannya sedang tidak dalam keadaan kacau. Berdasarkan efek yg ditimbulkan, sekurangnya terdapat 2 jenis, yaitu cetik yg berefek seketika serta efek yg muncul relatif usang (dapat hingga 6 bulan).

Ada cetik yg berakibat rendah, misalnya sakit perut atau panas dingin serta terdapat juga cetik yg berefek ganas, misalnya muntah darah atau pingsan. Cetik yg berefek ganas dikenal oleh masyarakat Bali bernama Cetik Ceroncong Polo (menyerang otak) serta Cetik Reratusan (menyerang perut). Untuk menghindari cetik saat terdapat pesta makan, orang Bali umumnya melakukan beberapa hal, misalnya :

Menaburkan butiran garam pada atas nasi yg akan dimakan (garam dipercaya dapat menetralkan cetik)
Ada juga yg menaburkan sedikit kuliner / minuman ke tanah (maksudnya jikalau kuliner/minuman yg terkena cetik akan hilang kekuatannya jikalau telah menyentuh tanah)
Berdoa kepada Yang Maha Kuasa
Ngejot (menghaturkan sesaji) ke sanggah / pura atau ke ibu pertiwi

Waspada terhadap situasi.

Leak

Leak artinya suatu ilmu kerohanian kuno yg diwariskan oleh leluhur Hindu pada Bali yg tercatat pada lontar-lontar kuno. Leak berasal dari istilah liya serta ak yg berarti 5 aksara. Kekuatan 5 aksara tadi diolah didalam tubuh, sehingga akan mampu mendekatkan diri kepada Tuhan. Kelima aksara tadi yaitu : Si, Wa, Ya, Na, Ma (Nama siwa ya) yg mempunyai arti :

Si mencerminkan Tuhan
Wa artinya anugrah
Ya artinya jiwa
Na artinya kekuatan yg menutupi kecerdasan
Ma artinya egoisme yg membelenggu jiwa

Dengan mampu mengolah kelima aksara tadi dalam pintu panca indra pada dalam tubuh, maka orang tadi akan simpel mencapai moksa (alam nirwana atau alam pada atas surga). Prinsip mempelajari ilmu leak artinya kerahasiaan, jadi dilarang diceritakan atau diketahui oleh siapapun. Karena kerahasiaannya, belajar ilmu leak harus berada pada tempat sepi, seperti pada kuburan (tempat para roh berkumpul) serta pada tempat-tempat angker.

Beberapa pantangan yg harus dilaksanakan misalnya dilarang berzina serta memakan daging berkaki empat. Dalam praktiknya, ilmu leak dapat menghasilkan orang yg mempelajarinya dapat melepas rohnya ke alam gaib, merubah diri menjadi bola api, binatang, rangda/celuluk (mahluk berwajah seram) atau lainnya sesuai dengan tingkat ilmu yg dikuasainya. Pada zaman kerajaan, ilmu leak banyak dipelajari oleh famili raja menjadi alat melindungi diri dari agresi musuh.

Ilmu Leak yg bersumber dari Dewi Durga (istri Dewa Siwa) adalah salah satu ilmu kerohanian buat mencapai nirwana. Namun, rasa dengki serta iri hati yg membelenggu jiwa, menghasilkan banyak orang yg menyalahgunakan kesaktian ilmu leak. Banyak orang yg telah menguasai ilmu pengeleakan menggunakannya buat hal-hal negatif karena tidak mampu mengendalikan pikiran serta amarah.

Jika ini terjadi, maka sesuai isi lontar, mereka akan menemukan banyak penderitaan dalam seribu kelahirannya (reinkarnasi) pada bumi. Penyalahgunaan ilmu leak tersebutlah yg menghasilkan ilmu leak dicap menjadi ilmu hitam / dursila oleh masyarakat Bali. Untuk menangkal dampak ilmu leak artinya memperkokoh keimanan serta menghilangkan rasa takut yg hiperbola. Demikianlah yg dapat aku bagikan kali ini serta semoga menambah wawasan buat kita semua. Wassalam.

Nuwun.

Leave a Reply