Dunia Keris Selamat datang kerabat perkerisan. Kisanak nir salah dalam membaca judul. Bahkan mungkin, istilah di atas baru kali ini kisanak dengar. Maksud judul di atas, berhati-hatilah terhadap sumpah serapah yg kita keluarkan untuk orang lain. Belum tentu orang yg kita kutuk mendapat kutukannya, karena bisa jadi justru kita sendiri lebih dulu telah menerima efek dari kutukan yg kita ucapkan. Penasaran, mari kita duduk manis dan membincangnya.

Sesuai bersama judul di atas, aktor utama kita kali ini adalah makhluk yg disebut air. Tidak terbayangkan betapa luar umumnya fungsi dan makna eksistensi unsur air di muka bumi ini. Air selalu dibutuhkan sang makhluk hidup untuk hampir sebagian besar aktivitasnya untuk tetap bertahan hidup. Pertanyaannya, pernahkah kita berpikir ihwal hakikat yg lebih dalam dari air itu sendiri?

Karakteristik air itu kaya. Air selalu membisu kepada dataran yg rata, ia selalu mencari loka yg lebih rendah, dalam kedalaman yg tinggi, air akan menampakkan kejernihannya yg amat sangat. Air pun sering dianalogikan dan diibaratkan bersama salah satu sifat manusia. Dalam kepercayaan dan tradisi Jawa, mereka yg lahir kepada hari tertentu, memiliki dan berkarakteristik laksana air.

Dalam tafsir selanjutnya, mereka yg lahir kepada hari itu identik memiliki sifat rendah hati dan selalu gemar berkunjung dan bersahabat bersama kasta dan rakyat golongan terbawah. Air pun, sering identik dan disejajarkan bersama ilmu pengetahuan menjadi wujud dan bentuk yg menerangkan ilmu pengetahuan tersebut. Air, selain membentuk lautan samudera, air ibarat sebuah tinta yg cukup luas dan maha kaya. Itulah air.

Telah banyak penelitian yg mengkaji senyawa unik ini. kepada tulisan saya yg lalu yg saya beri tajuk Konsepsi Alam Semesta : Tidak Ada Benda Mati dan Semua Berkendak secara ekplisit telahmembincang ihwal makhluk yg bernama air ini. Secara singkat, saya cuplik dari tulisan sebelumnya, senyawa air merupakan gabungan antara dua unsur yg saling bertolak belakang, yaitu Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2).

Tentu akan timbul satu pertanyaan dari kisanak, kenapa saya sebut menjadi dua unsur yg antagonis? Sebab dikala partikel dari dua unsur ini bergabung akan memproduksi ledakan yg sangat besar dan kuat ratusan kali bila dibandingkan bersama ledakan bom di Hiroshima-Nagasaki sesaat sebelum negara kita merdeka. Seandainya keduanya diciptakan di daratan bumi, maka bisa ditebak bumi akan menjadi mirip apa.

Bila ingin memaknai hakikat air lebih dalam lagi, telah ditemukan dan menjadi penemuan ilmiah yg sangat membantu bahwa unsur utama penyusun tubuh manusia adalah air yaitu sejumlah 70%. Cairan ini terbagi secara merata dalam seluruh organ-organ tubuh, dimana setiap organ tubuh tersusun dari sistem jaringan, dan setiap jaringan disusun sang jutaan sel-sel.

Penyedehanaan kalimatnya, dapat dikatakan bahwa air adalah senyawa utama yg dibutuhkan sang setiap satu sel untuk menjalankan perannya dalam tubuh menjadi agen terkecil penentu segala kondisi maupun sifat turunan dari manusia (genetik). Satu sel saja yg mengalami kekurangan air, akan membawa kerusakan dan malfungsi dari sel itu, kepada akhirnya keseimbangan badan terganggu. Inilah yg berakibat manusia mengalami fase sakit.

Air diciptakan nir hanya menjadi penyusun utama tubuh manusia. Bumi pun yg merupakan makhluk-Nya diberikan jumlah air yg jauh lebih besar dari jumlah luasan daratan. Kenyataan itu yg membentuk setiap makhluk nir akan kekurangan air. Makhluk yg tubuhnya tersusun dari air tidak akan bisa hidup tanpa air.

Penciptaan gaya gravitasi pun berfungsi untuk menunda setiap materi yg ada di bumi tetap kepada tempatnya, termasuk air. Bisa dibayangkan kalau nir berlaku aturan gravitasi kepada seluruh air yg ada di alam, maka air yg menempel kepada bumi akan tumpah dan berterbangan.

Kenyaatan ini masih ditambah lagi bersama adanya mekanisme hidrologis berupa proses terjadinya hujan. Setiap hari air sisa penggunaan dari manusia akan dialirkan melalui sungai. Pada akhirnya air-air limbah itu akan manunggal di bahari.

Pun halnya, Tuhan menciptakan mekanisme naiknya air bahari akibat panas matahari, salah satu esensinya adalah Dia menyampaikan kesempatan bagi air limbah tersebut untuk membersihkan diri. Dan setelah tahap pembersihan telah selesai, air akan diturunkan kembali berupa hujan. Lantas bersama hujan itu Dia menyirami setiap bagian di bumi supaya tumbuh segala apa pun yg dibutuhkan manusia. Tapi kenapa manusia masih lupa untuk bersyukur?

Para peneliti pula telah menemukan fakta mencengangkan yg bisa membuka khazanah pengetahuan baru bagi kita ihwal kebesaran-Nya. Air ternyata merupakan senyawa hidup yg bisa merespon tindakan dari manusia. Pengamatan melalui alat pembesar canggih membuktikan bahwa terjadi pergerakan kepada partikel air dikala diberikan perlakuan sang manusia. Jika manusia menyampaikan perlakuan positif maka bentuk partikel akan selalu beraturan, sedangkan perlakuan jelek akan berlaku kebalikannya.

Fakta ini yg kemudian dapat memunculkan kesimpulan yg meyakinkan bahwa bersama selalu menjaga pikiran dan perasaan kita untuk tetap positif, maka akan membawa kita kepada ketenangan hidup. Apa sebabnya? Karena sebagian besar tubuh kita tersusun dari air!

Baik, sekarang saya ajak kisanak untuk menerjemahkan lebih dalam seputar esensi air. Pada kesehariannya air memiliki sifat yg dinamakan anomali dan kapilaritas. Anomali adalah keanehan yg selalu diperlihatkan dan dilakoni sang air, sedangkan kapilaritas biasa diartikan menjadi daya resap air untuk melalui celah-celah kecil.

Beberapa model dari anomali yg diperlihatkan sang air adalah; air mengalir dari tinggi ke rendah, air yg dipanaskan akan menguap, dan air yg didinginkan akan membeku. Nah, dari narasi barusan tentu akan timbul lagi satu pertanyaan yg paling fundamental ihwal anomali, ini artinya apa?

Pada tulisan sebelumnya yg tautannya saya sertakan di atas dan sedikit sudah saya narasikan di atas, bahwa manusia diciptakan sebagian besar dari air, dan setiap manusia pun harus mengambil pelajaran dari apa yg menyusunnya, karena itulah Dia menganugerahi akal bagi Bani Adam.

Pun halnya, sistem keseimbangan atau sunatullah yg memberlakukan air untuk mengalir dari tinggi ke rendah merupakan suatu pembelajaran bagi manusia untuk selalu rendah hati. Ketika posisi manusia sedang di atas (tinggi), maka tetaplah melihat ke bawah, karena suatu dikala posisi bawah (rendah) akan menghampiri pula. Maka nir hiperbola kiranya ada pribahasa menyebutkan, kehidupan itu bagaikan roda yg berputar.

Kemudian air dipanaskan akan membentuk uap yg memiliki masa jenis dan kerapatan yg lebih rendah dibandingkan bersama bentuk aslinya (air). Jika diibaratkan bersama manusia yg diprovokasi, maka darahnya akan mendidih dan emosinya cenderung labil. Makin tinggi kerapatan dirinya maka semakin bisa beliau dalam mengendalikan dirinya untuk nir marah (kalau kepada air marah diibaratkan terbang dan menguap).

Sedangkan perumpamaan kebalikannya kalau air didinginkan akan membeku adalah kalau manusia dinasehati bersama cara baik dan menyentuh maka beliau akan berpikir dan bertindak lebih dingin dalam hidupnya. Konsep kapilaritas dicontohkan bersama daya serap yg dimiliki sang sumbu kompor dan pula daya serap yg dimiliki daun-daun tanaman. Minyak tanah yg umumnya digunakan dalam mengisi tabung kompor dapat meresap dari ujung satu ke ujung yg lain, sampai memungkinkan sumbu kompor membakar hanya ujung paling atas tanpa mengganggu bagian bawahnya.

Akhirnya muncul pertanyaan kenapa air ini dapat terserap ke atas? Bukankah ia melawan medan gravitasi? Apakah ini nir melawan sistem keseimbangan alam atau sunatullah itu sendiri?

Nah, pertanyaan-pertanyaan mirip inilah yg membawa kita kepada kesimpulan bahwa ajaran kepercayaan nir bisa dipisahkan dari ilmu. Tuhan sendiri yg selalu menantang umatNya berpikir keras ihwal betapa Maha Sempurna cipataanNya.

Jika kita belajar sejarah, dahulu manusia mengira bumi yg kita pijaki ini berbentuk piring sehingga mereka selalu takut berlayar, mereka nir mau sampai di ujung Bumi dan jatuh disana. Kembali ke persoalan sumbu kompor. Begitu pula pelajaran yg dapat diambil. Dahulu manusia menganggap nir akan bisa mengudara tegak lurus terhadap Bumi, tetapi ternyata setelah perkembangan tekhnologi diketahui bahwa aturan gravitasi bisa dilawan untuk sampai kepada lapangan luas bernama luar angkasa.

Tuhan pun mengizinkan manusia menyentuh luar angkasa bersama tujuan supaya manusia menyadari luasnya dunia yg diciptakanNya. Jika yg diciptakan seluas dan sebanyak itu maka sudah sempurna penciptanya Maha Luas dan Maha Besar.

Lantas, setelah narasi yg cukup panjang ini, apa korelasinya air bersama air menjadi perekam yg tidak pernah bohong, mirip judul tulisan ini?

Seperti yg sudah kita bincang di atas, bahwa 70 persen bagian tubuh kita adalah mengandung air. Jadi, segala ucapan emosional kita akan diterima, direkam dan disimpan bersama baik sang tubuh kita. Pada suatu dikala, maka rekaman tersebut akan diputar sang tubuh, suka nir suka kita harus mendengarkannya. Sesibuk apapun, manakala rekaman tersebut diputar, kita nir bisa sembunyi dimanapun untuk nir mendengarkannya.

Tidak persoalan kalau rekaman tersebut adalah rekaman yg baik. Nah, kalau yg jelek njur piye jal?
Sederhananya begini, hati-hari dalam berucap. Apalagi sumpah serapah. Itu akan direkam sang tubuh kita, dan akan diputar olehnya meski kita nir menghendakinya.

Banyak model kan ihwal hal ini, lihat para penyanyi dan para selebritis. Rata-rata kehidupan rumah tangga mereka hancur bukan karena apa-apa, tetapi merupakan efek dari lagu-lagu cengeng yg dilantunkan. Lagu mengenai putus cinta, perceraian dan lain sebagainya. Karena memang aturan alamnya demikian. Siapa menabur ucapan berkah maupun kutukan maka ucapan itu akan kembali ke dirinya pula. Nuwun.

Leave a Reply