Dunia Keris Selamat tiba kerabat perkerisan. Sebelum kita bahas lebih lanjut wacana Babad Nitik Sultan Agung ini, ada baiknya kita mengenal secara ringkas dari pengertian historiografi. Secara generik mampu dijelaskan, pengertian historiografi ialah penulisan sejarah kepada masa kerajaan tradisional buat merekam & mewariskan kehidupan dinasti yg berkuasa kepada generasi berikutnya. Penulisan sejarah tradisional ialah penulisan sejarah yg lebih mengedepankan unsur keturunan (geneologi), tetapi mempunyai kelemahan dalam struktur kronologi & unsur biografi & lebih mengedepankan kepada unsur bercerita. Penulisan ini umumnya wacana kerajaan, kehidupan raja, & sifat-sfat yg melebih-lebihkan raja & para pengikutnya. Hubungan karena implikasi nir tampak yg terpenting mengagungkan raja & kejayaan kerajaan.

Babad ialah cerita sejarah tradisional kepada kalangan warga Jawa. Babad ditulis sang pujangga keraton buat memperkuat legitimasi sejarah raja yg sedang berkuasa. Cerita babad berisi riwayat hayati raja, silsilah raja menjadi pusat kekuasaan & pusat global, interaksi raja beserta dinasti-dinasti sebelumnya atau beserta para Nabi & tuhan-tuhan.

Misalnya, Babad Tanah Jawi, Babad Giyanti, & Babad Pasundan. Oleh karenanya, cerita babad mengandung hal-hal yg irasional & mencampurkanadukkan antara mitos & empiris. Misalnya, dalam buku Babad Tanah Jawi, Sutawijaya mendapatkan pulung (cahaya sakti) buat berkuasa menjadi raja pendiri dinasti Mataram. Namun, kisah babad yg berkembang kepada abad ke-18, mirip Babad Giyanti, Babad Diponegoro, Babad Banten, & Babad Nitik Sultan Agung yg akan kita ulik kepada kesempatan ini mulai mengandung kebenaran sejarah.

Naskah orisinil Babad Nitik tersimpan kepada Perpustakaan (Widyabudaya) keraton Yogyakarta. Babad ini ditulis kepada atas kertas berukuran folio, beserta tinda hitam, berhuruf Jawa beserta bahasa Jawa Bercampur Kawi, digubah dalam bentuk tembang macapat. Penulisnya nir diketahui, tetapi diterangkan bahwa ditulis atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII. Waktu penulisannya disebutkan beserta Sengkalan Resi Nembah Ngesthi Tunggal (1867 Jw/1936 M).

Babad Nitik Sultan Agung yg seluruhnya terdiri dari 3 puluh lima pupuh tembang itu berisikan pengalaman Sultan Agung semenjak masih menjadi putera mahkota, pelantikannya menjadi Sultan & masa pemerintahannya yg berpusat kepada keraton Kerto. Diceritakan bahwa sewaktu masih menjadi putera mahkota, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh Jawa, Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan ke dasar bahari & alam kedewataan. Semua perjalanan itu dilaksanakan secara gaib.

Seperti kita ketahui kepada zaman dahulu keyakinan yg hayati dalam warga kita bahwa raja itu bukan manusia biasa, melainkan manusia tuhan yg memiliki kelebihan-kelebihan dari manusia biasa. Pada zaman Sultan Agung berkuasa, agama Islam sedang berkembang pesat kepada atas dasar budaya Jawa sebelum itu. Seorang raja yg berwibawa & berpredikat Gung Binathara ialah raja yg berkualitas manusia-tuhan sekaligus Khalifatullah. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa Sultan Agung balik  ke Mekkah buat minta pengakuan menjadi Khalifatullah.

Perjalanan putera mahkota Mataram (sebelum dinobatkan) ke seluruh Nusantara & Asia Tenggara dalam rangka nitik atau menjajagi keadaan daerah yg dikunjungi tersebut, dalam upaya pengembangan kekuasaan kelak andai saja telah memegang tampuk pemerintahan. Rupanya beserta alasan itulah maka babad ini dinamakan Babad Nitik.

Sang putera mahkota Mataram yg bergelar Pangeran Adipati itu selalu mampu menundukkan negara-negara yg dikunjungi beserta kesaktiannya sendiri. Kemudian raja & rakyat dari negara yg telah tunduk itu bersedia masuk Islam. Cerita ini mirip beserta hikayat Amir Hamzah (kepada Jawa populer beserta nama Wong Agung Menak) dalam menyebar atau menyebarkan Islam. Hal ini buat tanda atau memberikan bahwa Sultan Agung ialah Khalifatullah.

Di samping itu Babad Nitik pula berisi hal-hal yg berbau gaib, mirip: Sultan Agung kawin beserta Dewi Ratu Kidul. Begitu pula Sultan mampu terbang ke Kadewataan (Surga) & bertemu beserta tokoh-tokoh dari global pewayangan, yakni Pandawa yg dicermati menjadi leluhur. Pergi ke Mekkah hanya dalam beberapa menit & sebagainya. Hal itu semuanya buat memberikan bahwa beliau berkualitas Raja-Dewa-Khalifatullah.
Biasanya Babad memang diwarnai sang hal-hal yg berbau gaib mirip itu.

Babad Nitik pula sebenarnya poly berisi gosip kebudayaan & kesejarahan. Akan tetapi gosip kesejarahan yg terdapat dalam babad harus diuji betul-betul kebenarannya, beserta cara membandingkan beserta sumber-sumber lain karena dalam babad aneka macam hal-hal yg bersifat fiktif.

Beberapa gosip yg mampu dipertimbangkan buat dikaji lebih jauh menjadi data sejarah & kebudayaan, diantaranya:

Tentang sifat seorang raja yg baik ialah:(a) pintar memikat para prajurit beserta penghasilan yg cukup, & nir menyakiti hatinya; (b) nir membentuk sakit hati rakyat; (c) bijaksana, hati-hati, cepat dalam mengambil keputusan; (d) pintar mendidik rakyat; (e) selalu waspada terhadap tingkah laris rakyatnya; (f) bertanggung jawab; (g) berbudi halus & luhur; (h) taat beragama & beribadah; (i) tabah sesuai kearifan huum; (k) teguh pendirian; (l) mampu mengelakkan segala godaan; & (m) menyebarluaskan agama.
Sebagai seorang artis, beliau membuat: (a) tari serimpi; (b) menyempurnakan gamelan beserta menambah instrumen bedug & saron ricikan; (c) membuat gending Andong-Andong, Madubrata, Kodok Ngore & Monggang; & (d) membuat Wayang Gedhog dalam cerita siklus Panji.
Sultan Agung naik tahta tahun 1617. Dalam catatan sejarah, Sultan Agung naik tahta kepada tahun 1613, tetapi menurut Babad Nitik baru tahun 1617 lantaran kepada ketika Prabu Hanyakrawati (Raja Mataram II) mangkat beliau nir ada kepada kawasan & nir diketahui sedang berada kepada mana. Oleh karenanya diangkatlah adiknya yg bernama Pangeran Martopuro. Baru kepada tahun 1617 beliau muncul. Pangeran Martopuro turun tahta, kemudian balik  ke Bagelen, nir lama mangkat & dimakamkan kepada bukit Sela Bagelen.
Semasa pemerintahannya, beberapa kali ganti pejabat tinggi: (a) Patih: Tumenggung Mandaraka (1617-1623), Tumenggung Singaranu (1623-1645); (b) Pengulu: Wanatara (1617-1619), Pangeran Kepodang (1619-1620), Kyai Serang (1620-1622), Ahmad Kategan (1622-1645); (c) Jaksa: Juru Mayemditi (1617-1623), Kyai Mas Sutamarta (1623-1645).
Sultan Agung memugar makam Tembayat. Pada tahun 1620 Sultan Agung memugar pemakaman Tembayat (Kabupaten Klaten) kepada mana terdapat makam Pangeran Pandanaran yg telah mengajar Ilmu Paramawidya kepada Sultan Agung & membuahkan daerah Tembayat bebas pajak (perdikan).
Membangun pemakaman Imogiri. Sultan Agung membangun pemakaman buat dirinya kepada bukit Girilaya, sebelah utara-timur Imogiri. Sewaktu pembangunan makam belum terselesaikan Pangeran Juminah (pamannya) meninggal kepada kawasan itu & dimakamkan kepada kawasan itu pula. Kemudian Sultan Agung membangun pemakaman Imogiri mirip yg terdapat hingga sekarang.
Sultan Agung nir gagal menyerang Kumpeni. Hasil utamanya ialah semangat juang yg terus berkobar.
Keraton Sultan Agung kepada Kerto menjadi contoh. Sultan Agung selesainya naik tahta memindahkan keratonnya ke Kerta (sebelah selatan Yogyakarta), keraton itu bagus tetapi nir berpagar benteng, melainkan hanya berpagar korden dari kain sutera lantaran Sultan merasa nir perlu, nir ada orang yg berani mengganggu keraton raja yg sakti itu.Kiranya Keraton Kerto inilah yg menjadi contoh Keraton Surakarta & Yogyakarta yg terdapat hingga sekarang ini, kecuali bentengnya.

Referensi :
Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan

Leave a Reply