web analytics
Sejarah Musik Keroncong: Dari Pengaruh Portugis hingga Identitas Musik Nusantara - DUNIA KERIS

Pendahuluan

Musik keroncong merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang memiliki posisi penting dalam sejarah musik di Indonesia. Pada masa tertentu, khususnya sekitar tahun 1970-an, keroncong bahkan menempati posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan genre lain seperti campursari. Hal ini menunjukkan bahwa keroncong pernah menjadi bagian utama dalam lanskap musik populer di Indonesia.

Keberadaan keroncong yang begitu kuat menimbulkan pertanyaan mengenai asal-usul dan proses perkembangannya. Bagaimana musik ini terbentuk, dan bagaimana ia dapat berkembang menjadi salah satu identitas musik Nusantara, menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.

Asal-usul Musik Keroncong

Wilayah kepulauan Maluku (Sumber: google)

Secara historis, musik keroncong memiliki akar yang dapat ditelusuri hingga kedatangan bangsa Portugis ke Nusantara pada abad ke-16. Kehadiran Portugis di wilayah Maluku tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan rempah-rempah, tetapi juga membawa pengaruh budaya, termasuk dalam bidang musik.

Selama kurang lebih satu abad keberadaannya di Maluku hingga pertengahan abad ke-17, bangsa Portugis memperkenalkan berbagai unsur musikal yang kemudian berinteraksi dengan budaya lokal. Dari wilayah ini, pengaruh musik Portugis mulai menyebar ke daerah lain di Nusantara, termasuk ke Pulau Jawa.

 

 

 

Penyebaran ke Batavia dan Lahirnya Komunitas Tugu

Perkembangan keroncong tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah kolonial di Kepulauan Banda pada awal abad ke-17. Tindakan represif yang dilakukan oleh VOC terhadap masyarakat Banda menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk secara besar-besaran, baik melalui penawanan maupun pelarian ke wilayah lain.

Ilustrasi warga maluku melawan VOC (Sumber: google)
Krontjong Toege (Sumber: Gramedia)

Dalam salah satu peristiwa, sekelompok orang Portugis beserta keluarganya yang berasal dari wilayah tersebut kemudian dipindahkan ke Batavia dan ditempatkan di daerah yang kini dikenal sebagai Kampung Tugu, di wilayah Cilincing, Jakarta Utara, sekitar tahun 1661. Di tempat inilah terbentuk komunitas keturunan Portugis yang kemudian memainkan peran penting dalam perkembangan awal musik keroncong.

Dari komunitas ini lahir bentuk musik yang dikenal sebagai Krontjong Toegoe, yang dianggap sebagai cikal bakal musik keroncong di Indonesia. Musik ini merupakan hasil percampuran antara tradisi musik Portugis dengan unsur lokal yang berkembang di masyarakat setempat.

 

 

 

 

 

Perkembangan Instrumen dan Identitas Bunyi

Alat musik keroncong (sumber: tempo)

Salah satu ciri khas utama musik keroncong terletak pada penggunaan alat musik petik kecil yang kemudian dikenal sebagai ukulele. Instrumen ini memiliki akar dari tradisi musik Portugis, khususnya alat musik seperti cavaquinho.

Di Indonesia, terutama di lingkungan Kampung Tugu, instrumen ini berkembang dengan karakter bunyi yang khas. Bunyi “crong” yang dihasilkan menjadi asal-usul penamaan “keroncong”. Sejak saat itu, ansambel musik yang menggunakan instrumen tersebut dikenal sebagai musik keroncong.

Penggunaan instrumen ini kemudian menjadi identitas utama yang membedakan keroncong dari bentuk musik lainnya di Nusantara.

Dinamika Sosial dan Perubahan Citra

Seiring dengan meningkatnya popularitasnya, musik keroncong juga mengalami dinamika sosial. Pada suatu masa, muncul istilah “buaya keroncong” yang merujuk pada citra negatif sebagian pemusik keroncong yang dianggap memiliki gaya hidup bebas dan tidak sesuai dengan norma masyarakat.

Menara tranmisi radio NIROM (Sumber: wikipedia)

Namun, seiring berjalannya waktu, citra tersebut mengalami perubahan. Masuknya kalangan masyarakat menengah ke dalam dunia keroncong membawa pengaruh positif terhadap persepsi publik. Keroncong mulai dipandang sebagai bentuk hiburan yang lebih terhormat dan memiliki nilai artistik.

Perkembangan ini semakin didukung oleh hadirnya media penyiaran, seperti radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) yang mulai mengudara pada tahun 1925. Melalui siaran radio, musik keroncong semakin dikenal luas oleh masyarakat.

 

 

 

Masa Keemasan dan Tokoh-Tokoh Penting

Perkembangan keroncong mencapai puncaknya pada awal hingga pertengahan abad ke-20. Pada masa ini, berbagai orkes keroncong bermunculan dan turut meramaikan dunia musik di Indonesia.

Sejumlah tokoh penting seperti Kusbini, Ismail Marzuki, dan Gesang memainkan peran besar dalam mengangkat derajat musik keroncong. Karya-karya mereka tidak hanya populer, tetapi juga memiliki nilai artistik yang tinggi dan mampu memperluas jangkauan keroncong ke berbagai lapisan masyarakat.

Ajang kompetisi seperti Fandel Concours Keroncong yang diselenggarakan sejak tahun 1920-an juga menjadi wadah penting dalam perkembangan musik ini. Tradisi tersebut kemudian berlanjut melalui ajang pemilihan bintang radio keroncong yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia sejak tahun 1951.

Penutup

Sejarah musik keroncong menunjukkan bagaimana sebuah pengaruh budaya luar dapat bertransformasi dan menyatu dengan kearifan lokal. Berawal dari pengaruh Portugis di Maluku, berkembang di komunitas Tugu di Batavia, hingga akhirnya menyebar ke seluruh Nusantara, keroncong menjadi bagian dari identitas musik Indonesia.

Perjalanan panjang ini menegaskan bahwa keroncong bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan hasil dari proses budaya yang dinamis. Hingga saat ini, keroncong tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan di tengah perkembangan musik modern.

Leave a Reply